Tampilkan postingan dengan label Film-film. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Film-film. Tampilkan semua postingan

Rabu, 05 Juni 2013

One Day

Beberapa hari yang lalu, saya dan saudari-saudari saya sedang gandrung banget meminjam film di salah satu persewaan film di kota saya. Saya dan saudari-saudari saya langsung melahap 6 film--semua drama--dalam satu hari. Film-film itu adalah: Rectoverso, Mikha, My Sister's Keeper, The Lucky One, Letters to God, dan One Day. Dari ke-6 film itu, ada 4 film yang masih baru, dan kami mendapatkan bonus gratis menyewa 4 film lagi apabila kami mengembalikannya tepat waktu.

Kami--khususnya saya--memang suka sekali dengan film drama. Baik itu drama romantis, drama inspiring, drama komedi, maupun drama remaja. Semua jenis film drama dapat kami terima dengan sangat baik. Apalagi, kalau aktornya ganteng. *penting banget*

Dari ke-6 film drama tersebut, yang paling saya sukai adalah One Day yang dibintangi oleh Anne Hathaway. Usut punya usut, ternyata film ini diadopsi dari sebuah novel karya David Nocholls dengan judul yang sama: One Day.
Pic from here

Film ini menceritakan tentang perjalanan sepasang 'teman' bernama Emma dan Dexter setiap tanggal 15 Juli. Dimulai pada tanggal 15 Juli 1988, setelah mereka diwisuda. Tahun demi tahun berlalu, mereka masih menjadi sepasang 'teman' dan masing-masing berganti kekasih beberapa kali. Konflik mulai muncul pada saat Dexter menjadi 'gila' dengan kehidupannya yang sangat bebas. Hubungan dengan keluarganya mulai memburuk, begitu pula dengan hubungannya dengan Emma. Tapi, pada akhirnya, mereka menyadari bahwa mereka saling membutuhkan, dan mereka menikah. Sayangnya, kemudian Emma tertabrak truk saat sedang bersepeda pada 15 Juli 2006.

Nyesel dan nyesek banget nggak sih kalo jadi si Dexter? Bertahun-tahun dia berkelana, jadi anak nakal, berganti-ganti pacar, jadi presenter acara 'nakal', bermasalah dengan orang tuanya, dia selalu kembali kepada Emma, mencurahkan semuanya pada Emma, tapi tidak lebih dari seorang 'teman'. Kemudian, saat mereka baru saja menikah dan bahagia, tiba-tiba Emma meninggal.

Saya suka sekali film drama romantis yang super mengharukan seperti ini. Selain itu, ehm, Dexter, dari tahun 1988 sampai tahun 2011, tetep super ganteng. Pemeran Dexter adalah Jim Sturgess. I don't really know him, but, I love his face! :D
Penampakan Jim Sturgess, pic from here

Emma-Dexter, pic from here
So, buat kalian yang suka sekali film drama, dan belum pernah menonton film One Day, I recommend this movie! Film ini jauh lebih bagus dari The Lucky One yang katanya 'the most romantic movie' yang dibintangi oleh Zac Efron.

Jumat, 13 Januari 2012

The Forbidden Door (2009)

This week and next week, I will be on Final Examination. I've passed three subjects and there're four subjects more. But, this Friday until next Monday, I'll be free because there's no examination. Since my life is getting awkward this year, well, actually this month, and I don't know when will it lasts, I have nothing to do when I'm in my house. So, I decided to watch a movie.

And, what's the lucky movie? It's The Forbidden Door, or in Bahasa we call it Pintu Terlarang. First, I thought it was a horror movie with a lot of scary scenes. But it is not. It's kind of thriller movie. I don't know what thriller movie means anyway, and what's the difference between horror and thriller. But, this movie is one of the best Indonesian Movies I've ever watched.

This movie tells about a child that's abused by his parents. And when he was 8 years old he killed his parents and put into prison (or kind of mental hospitals). In prison, he dreams (or what?) a story that became the plot of "Forbidden Doors". This film brings the audience to go to another world that entirely different from our world here. Many shocking scenes, and every scene makes the audience very tense. Unfortunately, the ending of this movie is not so clear. And I can not take a wisdom from the movie. But, overall, I like this movie.

How do you think? I think you will like this movie, too. Then, go get this movie! :D

Love, Meela xx.

Jumat, 06 Januari 2012

The Killers (2010)

Wah, wah, uda lama juga ya Mila nggak nonton film di laptop. Kalo nonton film di bioskop, terakhir Mila nonton Mission Impossible 4. Tapi, waktu itu Mila nontonnya sama orang yang nggak Mila suka, dan Mila juga lagi nggak mood banget. Parahnya lagi, Mila kan nonton yang jam setengah delapan, tapi Mila uda keliaran di mall tempat bioskopnya dari jam setengah enam. Mila harus nunggu dua jam bersama orang yang nggak Mila suka dengan mood yang nggak karuan. Beli es krim, ngobrol di Foodcourt, Sholat Maghrib, dan dinner di KFC. Dan pinternya, Mila lupa kalo filmnya mulai jam setengah delaman, Mila kira jam delapan. Akhirnya Mila harus nonton dari tengah-tengah cerita deh.

Lah, kok jadi cerita itu? Padahal kan Mila mau nge-review tentang The Killers. The Killers ini sebenernya udah lumayan lama juga beredarnya. Tapi, Mila baru nonton sekarang. Eh, ternyata filmnya lumayan bagus juga lo. Terimakasih banyak buat Nila yang sudah mengopikan film ini pada Mila.

The Killers itu sebenernya film action, tapi romansa antara Ashton Kutcher (Spencer) dan Katherine Heighl (Jen) di film ini sangat... Emmm... Sangat apa ya? Pokoknya sangat berasa gitu deh. Selain itu, unsur komedinya juga ada. Soalnya orang tua si  Jen itu konyol banget, dan ternyata darah konyolnya turun ke putri mereka satu-satunya, yaitu si Jen.

Picture from Here


Ceritanya, Jen sama Spencer ketemu di Nice. Nice itu sebuah kota di Perancis kalo nggak salah. Nah, awal pertemuan mereka itu juga konyol. Jen kan mau ke kamar hotelnya di lantai 3, nah, pas pintunya kebuka, ada si Spencer cuma pake celana renang dengan bodynya yang "wow" dan bikin cewek klepek-klepek. Nah, si Jen akhirnya nggak jadi keluar deh dan turun lagi ke lantai 1 sama si Spencer. Pas uda keluar dari lift, nggak taunya si Spencer ngikutin dia terus, Jen langsung jalan agak cepet, eh, tapi nggak taunya Jen malah jalan ke pantai. Padahal uda jelas-jelas si Spencer pake celana renang, ya pasti mau ke pantai juga lah. Akhirnya mereka kenalan deh.

Spencer sebenernya sedang menjalan misi untuk membunuh orang tua Jen di Nice. Spencer ini pekerjaannya membunuh orang-orang yang berbahaya bagi negara. Tapi, kata dia, dia bukan pembunuh, karena dia nggak membunuh orang baik, tapi orang-orang jahat. Dia diperintahkan membunuh orang tua Jen karena Ayah Jen sebenernya punya pekerjaan yang sama dengan Spencer, tapi Ayah Jen mau berhenti dari pekerjaan itu. Tapi ternyata Ayah Jen sudah tau, dan akhirnya Ayah Jen selamat.

Ternyata, Spencer jatuh cinta sama Jen. Dan akhirnya Spencer juga memutuskan untuk berhenti dari pekerjaan itu dan menjalani kehidupan normal bersama Jen. Akhirnya, Spencer langsung ngelamar si Jen ke Ayahnya, dan tanpa basa-basi, Ayahnya langsung bilang "selamat datang di keluarga kami". Tapi, ayahnya nggak percaya sepenuhnya sama Spencer, dia mengirim mata-mata untuk mengawasi Spencer dan Jen. Sampai suatu hari, Ayahnya membaca surat rahasia dari mantan bosnya Spencer yang memerintahkan untuk membunuh dia dulu. Ayahnya jadi khawatir dan menyewa pembunuh untuk membunuh Spencer dan menjanjikan imbalan bagi orang yang berhasil membunuhnya.

Sejak saat itu hidupnya Spencer jadi nggak tenang. Awalnya dia mengira mantan bosnya akan membunuh dia. Tapi ternyata Ayahnya Jen sudah lebih dulu membunuh mantan bosnya. Mulai dari sini adegannya tiap hari cuma bunuh-bunuhan aja. Dan, tau sendiri kan, Mila paling males sama adegan bunuh-bunuhan, bikin pusing.

Akhirnya (langsung akhirnya aja ya), Ayah Jen dan Spencer baikan, dan Jen memberi ultimatum agar di keluarga mereka tidak lagi terdapat kebohongan. Jen takut anaknya (Jen ternyata sedang mengandung) nanti akan ketularan jadi pembohong kalo mereka terus-terusan seperti itu. Yauda deh, akhirnya semua pada jujur-jujuran.

Yak, begitulah ceritanya. Kalo menurut Mila, Ashton Kutcher tetap terlihat ganteng di film The Killers ini. Kalo Katherine Heighl sih nggak cantik-cantik amat, cantikan juga Mila. Tapi, Mila suka banget liat kemesraan di antara mereka. Dari segi ceritanya, lumayan bagus. Ceritanya nggak klise dan nggak mudah ditebak. Adegan tembak-tembakannya juga lumayan... Lumayan bikin pusing maksudnya. Dan sedikit bikin deg-degan sih. Soalnya Jennya suka ngabur-ngabur gitu sih. Kalo komedinya, wah, lucu banget wes. Lumayan bisa ngilangin stress. Stressnya ilang, berubah jadi gila.

Okai deh, yang penasaran, silahkan didownload ya filmnya. Pasti ada di situs-situs terdekat. :D

Love,
Meela xx.

Senin, 28 November 2011

Kita Nggak Bakalan Kayak Gini Kalau Dulu Nggak Kayak Gitu

Pusing nggak baca judul tulisan ini? Jangn pusing dulu, karena tulisan ini benar-benar akan mancep di hati anda.

Begini, malem ini, Mila lagi pengen banget bales-balesin komen yang belum sempat Mila bales di blog kesayangan Mila ini. Semua komen dari para pengunjung yang baik hati Mila balesin satu-satu. Dari akhir hingga awal. Sampai pada tulisan jaman galau yang Mila tulis sekitar awal hingga pertengahan tahun 2010. Saat itu Mila lagi galau-galaunya karena masalah yang Mila dan Dia hadapi. Anyway, masih ingat kah kalian dengan Dia? Sudah lama sekali Mila nggak menyebut namanya di sini.

Saat itu, hubungan Mila dan Dia benar-benar seperti hampir finish. Seperti-hampir-finish, maksudnya, hubungan itu belum finish, tapi masih hampir, dan itu belum benar-benar hampir finish, tetapi hanya seperti. Mengerti apa yang Mila maksud di sini? Maaf kalo kata-kata Mila sedikit mbulet, karena Mila memang bukan pujangga. *ngeles*

Dan, sekarang, menjelang akhir tahun 2011, hubungan Mila dan Dia luar biasa lebih baik, bahkan lebih baik dari tahun 2008 saat pertama kali kami menjalin cinta. Ciyeh, bahasanya rek, menjalin cinta. Tapi beneran, detik ini Mila dan Dia bener-bener merasakan cinta pada puncaknya. Tapi jangan salah, puncaknya selalu bertambah tinggi, dan nggak ada ujungnya. Aamiin.

Well, Mila bukannya mau memamerkan kemesraan Mila di sini. Tapi Mila hanya ingin berbagi. Bukan berbagi uang atau makanan, tapi berbagi hikmah yang Mila dapat dari apa yang Mila dan Dia lalui.

Dia, benar-benar menyesali perbuatannya dahulu yang telah melukai hati Mila. Dia selalu meminta maaf kepada Mila tentang hal itu. Tapi, menurut Mila, nggak ada yang perlu dimaafkan karena nggak ada yang salah. Apa yang terjadi dulu adalah sebuah proses. Proses pembelajaran, proses pengujian, sehingga Mila dan Dia bisa menjadi seperti hari ini. Begitu pula hari ini, hari ini adalah proses untuk mencapai besok, lusa, minggu depan, bulan depan, tahun depan, dan seterusnya.

Kalau ditulis dengan bahasa gampang, kita nggak bakalan kayak gini kalau dulu nggak kayak gitu. Jadi nggak ada yang perlu disesali. Yang ada itu disyukuri. Kita juga harus bisa mengambil hikmah di balik apa yang telah kita lalui.

Buat teman-teman di luar sana yang mungkin sedang mendapat konflik dengan pasangannya, baik itu pacar atau suami/ istri. Jangan keburu emosi dulu ya. Apalagi yang cewe-cewe. Jangan sampai deh sampe kepikiran buat bunuh diri atau apapun. Itu nggak akan menyelesaikan masalah. Kalaupun kalian harus berpisah, nanti kalian pasti akan mencapai hasil. Dan hasil itu lah yang telah Tuhan rencanakan untuk kita. Rencana Tuhan pasti adalah yang terbaik untuk kita, karena Tuhan sayang sama kita.

Oh, iya, sekedar sharing, Mila kemarin mendapat sebuah quote yang bagus sekali dari sebuah film berjudul Forrest Gump. Film ini bener-bener bagus dan menginspirasi. Kapan-kapan Mila mau bikin review (atau trailer kalo mas Danu bilang :D) tentang film ini. Atau, kalau uda nggak sabar bisa dilihat di Twitter Mila. Tadi sore Mila menulis sedikit tentang film ini. Bunyi quotenya adalah seperti ini:
Aku mungkin memang bodoh, tapi aku tau apa itu cinta
Nggak nyambung-nyambung amat sih sama tulisan Mila kali ini, tapi quote itu bener-bener mancep di hati deh. Apalagi kalau dilontarkan oleh seorang berIQ 75. Pasti langsung hening deh seisi dunia. *lebai*

Well, karena sudah malem, kita sambung besok lagi ya teman-teman. Terimakasih sudah mampir dan membaca. Kalau mau komen atau mengkritik atau ngasih saran, boleh banget lo. :)

Love, Meela xx.

Selasa, 13 September 2011

Get Married 3 (2011)

*****
Yak, akhirnya Mila bisa juga bikin review film pas filmnya masih belom berstatus "jadul". Dan, film yang beruntung adalah... Jeng... Jeng... Jeng... GET MARRIED 3!! Mau tau kenapa kok Get Married 3? Soalnya ni film pinter banget cara promosinya. Jadi, salah satu TV swasta di Indonesia menayangkan Get Married 1 dan Get Married 2 beberapa hari yang lalu. Nah, di sela-sela jeda iklan, mereka mengiklankan film Get Married 3 yang baru tayang di bioskop. Alhasil, hati Mila tertarik dengan iklan tersebut. Dan kebetulan sekali, sahabat Mila-Winda dan Diska-ngajak Mila nonton, dalam rangka traktiran ulang Tahunnya Winda. Jadilah Mila nonton film ini.

Film ini adalah kelanjutan dari Get Married 1 dan Get Married 2. Di mana pada saat itu, Rendi dan Mae (suami-istri tokoh utama dalam film tersebut) sudah memiliki anak. Dan nggak tanggung-tanggung, mereka mendapatkan 3 anak kembar sekaligus. Entah karena apa, Rendi-yang diperankan oleh Fedi Nuril-dan Mae-yang diperankan oleh Nirina Zubir-memutuskan untuk mengasuh ketiga anak mereka sendiri tanpa bantuan dari pihak manapun termasuk keluarga mereka dan teman-teman dekat Mae. Namun ternyata Mae malah stress dan mengidap Baby "blus" (Mila nggak tau tulisan yang bener gimana, dan Mila nggak tau artinya apa).

Trus? Nonton sendiri dong ya. Kan nggak seru kalo Mila ceritain semua di sini. :D

Yang pasti, seperti 2 Get Married sebelumnya, Get Married 3 juga bikin penonton ngakak (banget). Aktingnya Fedi Nuril dan Nirina Zubir sangat natural, dan mereka terlihat seperti sepasang suami-istri sungguhan. Tapi, film ini nggak Mila rekomendasikan buat anak-anak di bawah 17 tahun ya, soalnya lumayan banyak adegan-adegan orang dewasanya (jangan mikir macem-macem lo ya).

WARNING:
Buat yang pengen banget nikah tapi masih belum diberi kesempatan oleh Yang Kuasa, hati-hati, nonton film ini dapat membuat anda galau semakin pengen nikah. Juga buat temen-temen yang sudah mau nikah deket-deket ini, hati-hati, bisa-bisa ilfeel dan pernikahannya dibatalin (jangan sampek deh ya).

Well, reviewnya standar banget ya? Tapi, semoga bisa bermanfaat buat teman-teman. Supaya lebih oke, Mila kasih link blog yang menurut Mila keren dan berkompeten dalam hal review-me-review film -->> Klik!

Thanks for visiting, Readers! Love ya. :)

Kamis, 04 Agustus 2011

The Pianist (2002)


Heylo, people!

On this happy occasion, I would like to tell you a movie tittled The Pianist. Well, this movie is not a new one, but, I think not many people knew about this movie. Same as Cinderella Story that I have mentioned earlier, The Pianist was adapted from a real incident. This movie tells about a famous Jewish pianist in Poland. And here is the plot I take from Wikipedia.org.

Władysław Szpilman, a famous Polish Jewish pianist working for Warsaw Radio, sees his whole world collapse with the outbreak of World War II and the invasion of Poland on 1 September 1939. After the radio station is rocked by explosions from German bombing, Szpilman goes home and learns that the United Kingdom and France have declared war on Nazi Germany. He and his family rejoice, believing the war will end quickly.

When the German Army enters Warsaw, living conditions for the Jewish population gradually deteriorate as their rights are slowly eroded: first they are allowed only a limited amount of money per family, then they must wear armbands imprinted with the blue Star of David to identify themselves, and eventually, in November 1940, they are all forced into the squalid Warsaw Ghetto. There, they face hunger, persecution and humiliation from the SS and the ever-present fear of death, torture and starvation. The Nazis become increasingly sadistic and the family witnesses many horrors inflicted on other Jews. In one scene, a group of Einsatzgruppen, led by an NCO, go into the apartment across from the Szpilmans. They order the family on the top floor to stand, then when an elderly man in a wheelchair is unable to comply, the SS throw him off the balcony. The rest of the family are then taken out into the street and shot, and the SS drive off, running over the bodies along the way.

Before long, the family, along with thousands of others, are rounded up as part of Operation Reinhard for deportation to the extermination facility at Treblinka. As the Jews are being forced onto rail cars, Szpilman is saved at the last moment by one of the Jewish Ghetto Police, who happens to be a family friend. Separated from his family and loved ones, Szpilman manages to survive. At first he is pressed into a German reconstruction unit inside the ghetto as a slave labourer. During this period, another Jewish labourer confides to Szpilman two critical pieces of information: one, that many Jews who still survive know of the German plans to exterminate them, and two, that a Jewish uprising against the Germans is being actively prepared for. Szpilman volunteers his help for the plan. He is enlisted to help smuggle weapons into the ghetto, almost being caught at one point.

Later, before the uprising starts, Szpilman decides to go into hiding outside the ghetto, relying on the help of non-Jews who still remember him such as an ex-coworker of his from the radio station. While living in hiding, he witnesses many horrors committed by the SS, such as widespread killing, beating and burning of Jews and others (the burning is mostly shown during the two Warsaw uprisings). In 1943, Szpilman also finally witnesses the Warsaw Ghetto Uprising he helped to bring about, and its aftermath as the SS forcibly enters the ghetto and kills nearly all the remaining insurgents. A year goes by and life in Warsaw further deteriorates. Szpilman is forced to flee his first hiding place after a neighbor discovers he is hiding there. In his second hiding place, near a German military hospital, he is shown into a room with a piano and then told to be as quiet as possible. Here, he nearly dies from jaundice and malnutrition.

In August 1944, the Polish resistance mounts the Warsaw Uprising against the German occupation. Szpilman witnesses the Polish insurgents fighting the Germans outside his window. Again, Szpilman narrowly escapes death when a German tank shells the apartment he is hiding in. Warsaw is virtually razed and depopulated as a result of the fighting (see Aftermath of the Warsaw Uprising). After the surviving Warsaw population is deported from the ruins and the German SS escape from the approaching Soviet Army, Szpilman is left entirely alone. In buildings still standing, he searches desperately for food. While trying to open a can of Polish pickles, Szpilman is discovered by a captain of the Wehrmacht, Wilm Hosenfeld. Upon questioning Szpilman and discovering that he is a pianist, Hosenfeld asks Szpilman to play something for him on the grand piano that happens to be in the building. The decrepit Szpilman, still a musical genius, plays "Ballade in G-Minor, Op. 23" by Frederic Chopin, moving Hosenfeld to spare Szpilman.

Hosenfeld lets Szpilman continue hiding in the attic of the building and even brings him food regularly, thus saving his life. Another few weeks go by, and the German troops are forced to withdraw from Warsaw due to the advance of Red Army troops. Before leaving the area, Hosenfeld asks Szpilman what his name is, and, upon hearing it, remarks that it is apt for a pianist (Szpilman being the Polish rendering of the German Spielmann, meaning "man who plays"). Hosenfeld also promises to listen for Szpilman on Polish Radio. He gives Szpilman his Wehrmacht uniform greatcoat and leaves. Later, that coat is almost fatal for Szpilman when Polish troops, liberating the ruins of Warsaw, take him for a German officer and shoot at him. He is eventually able to convince them that he is Polish, and they stop shooting. One soldier asks him why he is wearing a Wehrmacht coat, to which Szpilman replies, "I am cold."

As newly freed prisoners of a concentration camp pass a fenced-in enclosure of German prisoners of war sitting on the ground and guarded by Soviet soldiers, they start collectively verbally abusing the prisoners, with one tirading that he used to be a violinist. A visibly beaten Hosenfeld, a shadow of his former once proud demeanor, comes up to the fence and asks the violinist if he is familiar with Szpilman, which the violinist confirms. Hosenfeld states that he helped him in hiding and asks if Szpilmann can return the favor. Szpilman, now playing live on Warsaw Radio, is visited by the violinist in the studio, who takes him to the site with all the prisoners having been removed along with any trace of the stockade. In the film's final scene, Szpilman triumphantly performs Chopin's Grand Polonaise brillante in E flat major to a large audience in Warsaw. Title cards shown just before the end credits reveal that Szpilman continued to live in Warsaw and died in 2000, but that Hosenfeld died in 1952 in a Soviet prisoner-of-war camp.


Actually, I don't really like antiquity movies which have a lot of shooting scenes. They are kind of movies that I might not watch because it is very boring to me. However, I started to love that kind of movies after watching the Down Hill. The film also tells the massacre of Jews by the Germans, and the defeat of Germany by Russia. This movie has many fight scenes that often makes my head hurt and wanted to puke. However, because the storyline is good, I become like it and make this kind of movies as an exception.

I give this film 4 stars because of it's good storyline, and give it hundreds stars because it has eliminated my boredom. And I recommend this film for you. This is a must be watched film!

Love, Meela xx.

Sabtu, 23 Juli 2011

Inception (2010)

Inception, dalam bahasa Indonesia disebut dengan Insepsi. Sejujurnya, Mila nggak ngerti artinya insepsi itu apa. Tapi, berdasarkan yang Mila tangkap dari film Inception, Insepsi adalah memasukkan sebuah ide ke dalam alam bawah sadar seseorang. Is it possible? I don't know. They said nothing is impossible, but, how do you think, guys?

Okey, back to Inception, Inception ini adalah film "kayal bikin mikir" atau film fiksi ilmiah. Well, I know, it's a little to late to talk about this movie. Tapi, Mila yakin, meskipun banyak yang ngaku sudah nonton film ini, pasti ada beberapa orang yang belum pernah nonton film ini, dan Mila pengen "mengiming-imingi" mereka supaya nonton film yang di pebintangi oleh Leonardo diCaprio ini.

Leonardo diCaprio mungkin memang dilahirkan sebagai aktor film "kayal bikin mikir", seperti film sebelumnya yaitu Shutter Island yang cukup membuat pusing penontonnya. Di film Inception, diCaprio berperan sebagai Cobb, seseorang yang memiliki kekuatan (or what) untuk masuk kedalam mimpi seseorang. Ia menggunakan kekuatannya untuk mencuri rahasia dari targetnya.

Okey, inti dari cerita ini adalah Cobb dan timnya akan melakukan sebuah insepsi. Kenapa dia harus melakukan insepsi? Padahal pada mulanya Ia adalah seorang pencuri, dan insepsi adalah sesuatu yang almost impossible di dunia film tersebut. Satu alasannya, yaitu, orang yang menyuruhnya melakukan insepsi tersebut merupakan orang "penting" yang bisa membebaskan dirinya atas tuduhan kriminal panjangnya. Tuduhan tersebut membuat Cobb tidak dapat bertemu dengan anak-anak yang sangat Ia sayangi, makanya, Cobb mau melakukan hal tersebut.

Tapi, sayangnya, Cobb mempunyai suatu masalah, yaitu Istrinya yang selalu muncul dalam mimpinya dan menggagalkan rencananya. Mengapa demikian? Karena ternyata, Cob dan Istrinya dahulu telah membangun dunianya berdua di alam bawah sadar atau alam mimpi. Dan parahnya lagi, Cobb telah melakukan insepsi pada Istrinya yang menyebabkan Istrinya bingung antara dunia nyata dan dunia mimpi. Kebingungan tersebut menyebabkan Istrinya bunuh diri dan meninggal, namun Ia tetap hidup dalam mimpi-mimpi Cobb. Istrinya sebenarnya ingin bunuh diri bersama Cobb, Ia membuat cerita palsu yang menyebabkan orang-orang mengira Cobb lah yang menyebabkan kematian Istrinya. Ia melakukan hal itu agar Cobb juga ikut bunuh diri. Sayangnya, Cobb masih dapat membedakan dunia nyata dan dunia mimpi, dan Cobb tidak mau meninggalkan anak-anaknya sendiri di dunia nyata.

Bagaimana endingnya? Yeah, happy ending pastinya. Akhirnya Cobb terbebas dari tuduhannya dan Ia dapat kembali ke rumah dan bertemu dengan anak-anaknya.



Well, bagi penggemar Leonardo diCaprio dan penggemar film-film fiksi ilmiah, film ini sangat saya rekomendasikan untuk ditonton. ;)

Love, Meela xx.

Cinderella Man (2005)

Pasti semua orang di seluruh dunia tau dongeng Cinderella yang menceritakan tentang seorang gadis yang tinggal bersama ibu tiri dan kedua saudara tirinya. Beberapa dari teman-teman pasti juga pernah nonton film A Cinderella Story yang dibintangi oleh Hilary Duff. Awalnya, Mila mengira film Cinderella Man ini memiliki plot yang hampir sama dengan kedua film tersebut. Hidup bahagia, ayah meninggal, ibu tiri, saudara tiri, spatu kaca, pangeran, dan lain-lain. Tetapi, kenyataannya sungguh berbeda.



Cinderella Man adalah sebuah film drama Amerika yang diangkat dari kisah nyata, yaitu kisah hidup seorang petinju dunia bernama James J. Braddock. Braddock dalam film ini yang diperankan oleh Russel Crowe merupakan sosok suami dan ayah yang sangat penyayang. Bukan hanya itu, Braddock juga merupakan sosok teman dan sahabat yang baik hati dan juga petinju yang handal. Bahkan sampai di usianya yang sudah tidak dapat dikatakan muda lagi, Ia tetap dapat mempertahankan gelar juara dunia kelas beratnya. Braddock memiliki seorang istri yang sangat cantik dan begitu menyayanginya. Istri Braddock tidak pernah melihat secara langsung saat Braddock sedang bertanding. Hal ini dikarenakan Ia tak pernah tega melihat suaminya terluka. Ia mengatakan pada suaminya, "setiap kali melihat engkau dipukul, aku merasakan sakit yang sama seperti yang engkau rasakan, dan aku tidak sekuat dirimu". Namun, Ia begitu mendukung karir suaminya tersebut. Braddock pernah mengatakan bahwa, "aku tidak akan menang tanpa dukunganmu (istrinya)". Mereka berdua memiliki tiga orang anak yang masih kecil-kecil dan sangat lucu, 2 boys and a girl. Anak-anak mereka sangat mengidolakan Braddock.

Namun, roda kehidupan selalu berputar, hidup tak selamanya di atas. Pada suatu saat terjadi masa yang sangat sulit, dimana terjadi krisis, jumlah pengangguran meningkat, dan Braddock jatuh miskin. Braddock harus berjuang menghidupi keluarganya dengan menjadi petinju amatiran, dimana upah yang Ia terima tidak sepadan dengan kejanya. Parahnya lagi, suatu hari Braddock mengalami patah tulang kanan dan diberhentikan dari dunia tinju.

Untuk menyambung hidupnya dan keluarganya, Braddock mengantri di pelabuhan setiap hari untuk menjadi seorang buruh. Tetapi hal ini tidak mudah, karna setiap harinya hanya dibutuhkan 5-9 orang pekerja, sedangkan jumlah yang mengantri terlalu banyak. Keadaan semakin sulit saat semua tagihan semakin menumpuk dan kluarganya mengalami kelaparan. Sampai pada suatu hari, salah satu anaknya kedapatan mencuri sosis di sebuah toko. Anak itu takut bila Ia dan saudara-saudaranya kelaparan. Tetapi Braddock menyuruhnya mengembalikan sosis tesebut ke toko dan berjanji pada anaknya, "apa pun yang terjadi, kita tidak boleh mencuri, dan aku berjanji tidak akan menitipkan kalian pada panti asuhan atau pun yayasan".

Hingga salah satu anaknya mengalami demam tinggi dan istrinya tidak punya pilihan, Ia pun menitipkan anaknya tanpa persetujuan Braddock. Braddock yang marah langsung beranjak pergi untuk menemui rekan-rekannya terdahulu di tempat Ia biasa bertanding tinju, dan disana ia mengemis untuk meminta bantuan dana agar bisa pergi menjemput anak-anaknya dan membayar tagihan listrik yang sudah 4 bulan tidak pernah dibayar.

Tak lama setelah itu, salah seorang teman baiknya yang melihat keadaan Braddock berusaha membantu dengan membuatnya dia bisa bertanding tinju kembali. Ia juga sampai menjual barang-barang di apartemennya untuk membantu Braddock agar dapat bertanding kembali. Dari sini Mila mengambil hikmah yang sangat dalam, apabila kita bersikap baik pada orang lain, orang lain pun akan menjadi baik pada kita.

Awalnya, Mila mengira setelah itu ceritanya akan tamat dan berakhir bahagia, namun tebakan Mila salah. Setelah itu Braddock kembali bertanding tinju dan mendapatkan upah yang sangat tinggi. Ia menjadi pahlawan bagi kota tempat Ia tinggal. Seluruh kota mendoakannya agar menang melawan juara bertahan tinju kelas berat. Akhirnya, Braddock dapat menrebut gelar juara dunia dan hidup bahagia bersama keluarganya yang bahagia.

Cinderella Man benar-benar sangat mengharukan. Banyak kejadian-kejadian kecil yang membuat Mila menangis. Seperti saat Braddock mengemis pada teman-temannya dan saat istri Braddock membungkus daging pada sebuah tissue saat jamuan makan malam agar anak-anaknya juga dapat mencicipi hidangan tersebut.

Sulit menemukan celah dalam film ini, Mila suka semuanya, dari awal sampai akhir. Cuma satu aja yang Mila nggak suka, adegan waktu Braddock tanding tinju. Soalnya Mila emang dasarnya kan nggak suka kekerasan. Overall, I like this movie and it's really recomended for you, guys! ;)

Selasa, 12 Juli 2011

Surat Kecil untuk Tuhan

Kemarin, hari Senin, tanggal 11 Juli, Icha, Hilda, dan Mila pergi ke 21 Matos untuk menonton Film ini. Namun, karena beberapa hal, Mila dan teman-teman mendapatkan seat paling depan sehingga nonton filmnya kurang nyaman. Untung aja filmnya bagus. Mila nggak ngerasa nyesel deh.

Surat Kecil untuk Tuhan adalah salah satu Film Indonesia yang baru dirilis pada bulan Juli ini. Film ini diangkat dari kisah nyata. Yaitu dari kehidupan seorang gadis bernama Gita Sessa Wanda Cantika atau yang biasa dipanggil dengan sebutan Keke. Kehidupan Keke awalnya benar-benar sempurna. Keke memiliki seorang Ayah yang sangat menyayanginya, juga seorang Ibu yang sama menyayanginya, serta dua orang kakak laki-laki. Selain itu, Keke juga memiliki 6 orang sahabat yang sangat menyayanginya juga seorang pacar yang tak kalah menyeyanginya juga. Namun, orang tuanya bercerai. Perceraian orang tuanya sebenarnya bukan lah masalah besar, karena saat Keke berumur 13 tahun, ia menghadapi masalah yang sangat besar. Keke terkena kanker.

Keke mengidap Rhabdomyosarcoma (Kanker Jaringan Lunak). Dan Keke adalah pengidap penyakit ini yang pertama di Indonesia. Gadis cantik itu pun berubah menjadi "monster" hingga terpaksa harus menjalani serangkaian kemotrapi dan radiasi hampir setahun lamanya, akibatnya, semua,rambut Keke sedikit demi sedikit mulai rontok, kulitnya mengering, dan sering mual-mual. Ketekunan Keke dan keluarganya membuahkan hasil. Keke dinyatakan sembuh dan bisa kembali menjalani aktifitas seperti sedia kala.

Tetapi, setahun kemudian, kanker itu kembali, lebih parah dan mematikan. Sadar tak mungkin bertahan, tidak lantas membuatnya meyerah dan kalah. Semangatnya untuk tetap menjadi yang terbaik tak sedikitpun melemah. Namun, pada akhirnya, Keke harus pergi meninggalkan orang-orang yang Keke sayangi. Keke meninggal setelah 2 tahun berjuang melawan penyakit mematikan itu.



Buat teman-teman yang belum sempat nonton film ini, Mila ngerekomendasiin nonton film ini deh. Tapi jangan lupa, siap-siap bawa tissue ya, soalnya, lumayan bikin pengen nangis bombay nih filnya. ;)

Love, Meela xx.

Rabu, 02 Februari 2011

Mabok Film Romantis

Hari Senin, Isti ngasih Mila banyak banget film romantis, dan sampai sekarang, Mila uda nonton 5 film romantis. Pertama adalah Letters to Juiete, yang kedua Princess Diaries 2, ketiga Memoirs of Geisha, keempat Enchanted, dan kelima The Joneses. Semuanya romantis dan penuh dengan adegan-adegan mesra. Hehe. Sebenernya judul yang pas bukan "Mabok Film Romantis", tapi "Kecanduan Film Romantis". Soalnya, kalo lagi banyak stok film mesti jadi pengen nonton, dan melupakan dunia nyata di sekitar Mila.

Letters to Juliet

Film ini tayang di bioskop tahun 2010, udah lumayan lama sih, Mila aja yang telat nontonnya. Hehe. Hal yang Mila suka dari film ini adalah, film ini menceritakan tentang petualangan seseorang yang ingin menjadi penulis. Secara, Mila juga pengen banget jadi penulis, dan bisa nulis dengan bagus. Selain itu, karena salah satu soundtracknya adalah lagunya Taylor Swift, Love Story. Mila emang suka banget sama Taylor Swift. Lagu-lagunya easy listening banget, dan Taylor juga cantik, jadi enak dilihat.

Ceritanya nih ada sepasang kekasih yang sudah bertunangan yang akan melaksanakan pre-honeymoon di Italia. Nah, si cewe yang bernama Sophie, girang banget nih, soalnya, setelah itu, tunangannya yang berprofesi sebagai koki pasti akan sangat sibuk mengurus restorannya yang akan dibuka. Kapan lagi mereka bisa bersenang-senang, pikirnya. Tapi kenyataan yang dia dapat sangat jauh dari yang diharapkan. Ternyata, di Italia tunangannya malah sibuk dengan klien-kliennya. Sophie akhirnya capek dengan kelakuan tunangannya, dan memutuskan untuk membebaskan tunangannya untuk melakukan apa yang dia suka, dan Sophie akan melakukan apa yang dia suka sendiri.

Sewaktu jalan-jalan, dia melihat suatu tempat, di mana banyak sekali wanita yang menangis sambil menulis surat, dan menempelkan suratnya pada suatu dinding. Ternyata, surat-surat tersebut untuk Juliet. Tapi, yang membalas surat-surat itu bukanlah Juliet, tetapi sekelompok wanita yang disebut dengan Asisten Juliet. Saat itu Sophie menemukan sebuah surat yang terselip diantara batu-batu di tembok tersebut. Surat itu dibuat 50 tahun yang lalu, tapi Sophie tetap ingin membalas surat tersebut.
Ternyata, wanita yang menulis surat tersebut masih hidup, dan langsung terbang ke Italia bersama cucunya yang bernama Charlie.

Awalnya Charlie marah sekali pada Sophie, karena Ibu-Bapaknya sudah meninggal dan saat itu neneknya (Claire) sangat sedih, Charlie tidak ingin Claire sedih lagi bila ia tidak berhasil menemukan cinta lamanya yaitu Lorenzo. Tapi, akhirnya mereka bertiga memutuskan untuk mencari Lorenzo. Meskipun sangat susah, karena ada banyak sekali nama Lorenzo dengan nama belakang yang sama, dan harus pergi ke tempat-tempat yang jauh, tapi akhirnya Claire dapat bertemu Lorenzo, dan akhirnya mereka menikah.

Lalu bagaimana kisah Sophie dengan tunangannya? Akhirnya mereka putus karena mereka tidak saling mencintai. Akhirnya, Sphie dan Charlie menyadari bahwa mereka telah saling jatuh cinta, dan akhirnya mereka bisa bersatu. Well, from the first movie we get a happy ending. :)

Princess Diaries 2

Film ini adalah kelanjutan dari film Princess Diaries. Di film ini, Mia sudah lulus SMA, dan sudah berumur 21 tahun. Saat itu, Nenek Mia sudah waktunya pensiun, dan Mia lah yang harus menggantikannya, tapi sayangnya Mia belum menikah, padahal dalam peraturan negara Genovia, yang menjadi ratu harus sudah menikah. Ternyata perdana menteri yang jahat merencanakan untuk mencalonkan keponakannya sebagai raja. Dan perdana menteri yang licik itu melakukan trik-trik licik untuk menjatuhkan Mia. Ternyata, Mia dan keponakan perdana mentri itu malah jatuh cinta. Dan akhirnya, Mia tetap menjadi ratu.

FYI, Film ini juga lumayan jadul, sekitar tahun 2004. Tapi, lagi-lagi Mila ketinggalan jaman baru nonton sekarang. Hehe. Sebenernya, kisahnya ngga sesimpel yang Mila ceritain, lebih complicated. Tapi Mila lagi malas cerita. Kalo belom nonton silahkan ditonton. Bagus kok. And we get a happy ending again.

Memoirs of Geisha

Ini film juga lumayan lama, tapi, sumpah ceritanya bagus banget. Dari kelima film yang Mila tonton semua bagus. Tapi yang paling bagus dan berkelas adalah Memoirs of Geisha. Awalnya Mila ngira settingnya di China, ternyata ini film Jepang. Woo-hoo, I like it so much. Temen-temen yang belom nonton Mila saranin buat nonton ini. :)

Film ini diangkat dari sebuah novel, tapi, Mila nggak tau apakah ini kisah nyata, atau hanya fiksi. Kalau ini benar kisah nyata. Waw, berarti kehidupan di Jepang jaman dahulu kala itu benar-benar menyeramkan ya. Film ini diperankan oleh artis-artis terkenal seperti Gong Li dan Zang Ziyi.

Ceritanya, Chiyo dan kakaknya dijual oleh orang tuanya, kemudian Chiyo dan kakaknya dipisahkan. Nggak lama setelah itu, muncul kabar bahwa orang tuanya telah meninggal dan kakaknya telah pergi dari tempat tersebut. Akhirnya Chiyo tinggallah sebatang kara. Karena Chiyo suka berulah, akhirnya, dia berhutang banyak pada rumah yang mengasuhnya. Chiyo pun memutuskan untuk menjadi babu, bukan menjadi Geisha. Hingga suatu hari Chiyo bertemu Ketua dan ditraktir es. Chiyo diberi uang dan sapu tangan Ketua. Sejak saat itu, Chiyo menyukai Ketua dan ingin menjadi Geisha.

Mameha, salah satu Geisha terkenal mengajari dia cara menjadi Geisha, hingga akhirnya Chiyo menjadi Geisha nomer 1 di tempat tersebut. Dan akhirnya, setelah melewati berbagai macam rintangan, ia bisa bertemu dengan Ketua. Tapi, Geisha tetap lah Geisha, Geisha bukanlah istri, hanya istri di malam hari.

Film ini menyedihkan, seru, dan lumayan banyak adegan-adegan yang nggak layak ditonton anak kecil. Tapi beneran bagus kok. FYI, film ini sudah keluar sejak 2005 yang lalu, dan lagi-lagi Mila ketinggalan jaman. Hehe. From this third movie, we get a happy ending. :)

Enchanted

Enchanted adalah sebuah film musikal yang keluar sekitar tahun 2007 silam. Fil ini unik, karena awalnya filmnya kartun, tapi tiba-tiba mereka "terjebak" di dunia nyata. Ide filmnya bagus, meskipun alur ceritanya standar film-film romantis dan endingnya mudah sekali ditebak. Yang bikin Mila berdecak kagum itu adalah gaun-gaun yang dipakai oleh Giselle, cantik-cantik banget, persis di dongeng-dongeng.

Ceritanya, Giselle terjebak di dunia nyata, dan dia ditemukan oleh Robert dan anaknya. Robert sudah memiliki tunangan. Tapi pada akhir cerita Giselle dan Robert hidup bahagia di dunia nyata. Sebaliknya, tunangan Robert dan Pangeran Edward menikah di dunia kartun. Lucu kan? :))

The Joneses

Kalu yang satu ini, romantisnya nggak begitu menonjol. Tapi film ini keren. Serius. Ceritanya tentang sebuah "Fake Family" yang punya misi menjual barang-barang mewah. Keluarga ini dari luar terlihat sempurna, rumah mewah lengkap dengan perabot-perabot rumah tangganya yang bikin ibu-ibu satu kompleks ngiler, mobil mewah yang bikin iri tetangga, baju-baju branded, sepatu, syal, video game, tongkat golf, kosmetik, dan masih banyak lagi. Tapi, ternyata, keluarga ini juga mempunyai masalah, ternyata anak perempuan dalam keluarga itu suka bapak-bapak tua, lalu anak laki-lakinya homo, sedangkan bapak dan ibu pisah ranjang karena mereka memang bukan suami-istri syah, hanya pura-pura. Tapi, pada akhir cerita, bapak dan ibu pura-pura tersebut saling mencintai. Dan kita dapat happy ending lagi.

Well, kenapa semua film romantis itu selalu berakhir bahagia. Padahal, di dunia nyata, apakah keadaannya sama? I don't think so. Mila jagi inget kutipan ebagai berikut:
True love never lives happily ever after, because true love has no ending
.
How do you think? Do you agree with this quote? Or, you'd rather like this one?
God only makes happy endings, if it's not happy, it's not the end
.
Kalau Mila percaya dua-duanya. :)

P.S: Kalau ada yang punya film romantis yang endingnya sedih, share dong.

Love, Meela xx.

Jumat, 28 Januari 2011

Ayo Bercerita tentang Film! :)

Assalamualaikum Wr Wb..

Kemaren Mila udah ngerjain PR, artinya, sekarang libur dulu ngerjain PRnya. Sekarang Mila mau mengomentari beberapa film yang baru Mila tonton. Mungkin komentarnya nggak semuanya positif, soalnya nggak semua film yang Mila tonton bagus. Bukannya menghina yang membuat filmnya sih. Membuat film itu emang nggak gampang, Mila juga belum bisa membuat film, apalagi yang bagus. Tapi, tulisan ini cuma sekedar opini aja, semoga bisa membangun bagi pihak-pihak yang Mila bicarakan. Amin.

Sebenernya, Mila juga nggak sering-sering amat si nonton di bioskop. Koleksi film Mila juga nggak banyak. Tapi, dari yang sedikit itu, semoga bisa jadi bermanfaat.

Kita mulai dari film Indonesia dulu ya. Film Indonesia yang paling terakhir Mila tonton adalah film Love in Perth. Film ini dibintangi oleh 3 penyanyi muda yang sedang terkenal di Negara kita, yaitu Gita Gutawa, Derby Romero, dan Petra Sihombing. Ceritanya itu, Gita Gutawa yang berperan sebagai Lola mendapat beasiswa di sebuah SMA terkenal di Perth, Australia. Ternyata, di Perth, dia mendapat teman sekamar yang sangat membenci dia. Teman sekamarnya itu namanya Tiwi. Tiwi juga orang Indonesia, tapi dia ngomongnya pake bahasa Inggris terus, dan ngomongnya nggak pernah nyantai, emosi mulu. Mila nggak tau nama aslinya Tiwi sapa tapi, kalo mau tau, silahkan lihat di Wikipedia, pasti ada!


Foto cover film Love in Perth, diambil dari Inioke.

Singkat cerita, Lola jatuh cinta sama Dani (Derbi Romero). Dani itu anak orang kaya seperti si Tiwi. Dan mereka hanya berteman dengan orang-orang yang mereka anggap keren aja. Padahal Lola udah mbantuin Dani bikin Essay dan mendapat nilai tertinggi. Lola jadi benci banget deh sama Dani. Nah, waktu Lola sedih, Lola curhatnya sama si Ari (Petra). Ari emang baik banget sama Lola. Ternyata Ari jatuh cinta sama Lola, tapi sayangnya Lola cintanya sama Dani.

Akhirnya, cinta segitiga itu dimenangkan oleh Dani, dan akhirnya Dani dan Lola pacaran deh. :D

Nah, komentar Mila tentang film ini, pertama, film ini klimaksnya kurang banget, dan Mila ngga ngerasa ada "sesuatu" yang bisa Mila ambil dari film ini. Mungkin film ini bagian dari promosi single duetnya Gita Gutawa sama Derby Romero (atau sebaliknya ya?). Sepanjang film ini diputar, Mila sama Tanti sama Icha cuma ketawa-tawa. Tapi bukan karena kelucuan di ceritanya, Mila ketawa karena BIOSKOPNYA! Hehe. Nggak nyambung banget ya? Soalnya Mila nontonnya itu di Mandala, Malang Plasa. Di sana bioskopnya baru di renovasi, dan katanya udah jadi bagus. Ternyata waktu Mila sampe sana, kan Mila telat sekitar 10 menit. Lampu di samping bangkunya itu ngga diidupin, padahal kita duduk paling atas sendiri. Alhasil kita harus ngeraba-raba untuk bisa sampai tempat duduk kita. #dies. Untung gelap, jadi ngga memalukan-memalukan banget.


Foto lobi bioskop Mandala, Malang Plasa, diambil dari Skyscrapercity

Kedua, Mila kan duduk paling atas di deket jalan. Nah, tengah-tengah film, Icha ama Tanti bilang ke Mila, "Mil, sebelahmu itu apa sih?", dan Mila langsung noleh ke samping. Ternyata ada benda tinggi besar, yang nggak tau itu apa. Mila langsung teriak dan minta pindah tempat. Untung bioskopnya pas lagi sepi. :D

Ketiga, karena kami merasa salah pilih film, akhirnya kami hanya bisa menertawai uang kita yang terbuang sia-sia. Dan yang keempat, saat menjelang akhir cerita, tiba-tiba hujan. Dan guess what? Bunyi rintik-rintik hujannya itu kedengeran dari dalam bioskop. Jadi bioskopnya ngga kedap suara. Hahahahaha. Lucu sekali bukan?

Terakhir, yang bikin ketawa adalah si Tiwi dan teman-temannya yang ngomongnya keminggris banget, dan nggak nyantai sama sekali. Geli aja ndengernya. :D

Film kedua terakhir yang Mila tonton adalah Gaby dan Lagunya. Ini adalah film yang diangkat dari kisah nyata. Sebelumnya soundtrack lagu ini sudah lebih dulu terkenal, dan sangat fenomenal. Banyak yang mengklaim dirinya sebagai pencipta lagu tersebut. Tapi, Mila ngga tau, siapa kah yang sebenernya sudah menciptakan lagu tersebut, dan apakah kisah di balik lagu itu seperti film Gaby dan Lagunya ini.


Foto cover film Gaby dan Lagunya, diambil dari MP3 Gratisan Baru

Kalau film yang satu ini, meskipun, pemainnya nggak begitu terkenal, tapi klimaksnya cukup bagus, dan soundeffectnya juga mendukung. Tapi menurut Tanti, film ini juga sama gejenya. Hehe. Kalau menurut Mila sih lumayan bagus lah, mirip-mirip sama Virgin 2, 18+, dan film-film macam itu lainnya.


Foto poster film Shutter Island, diambil dari Catatan Si Dhiemazz


Ceritanya tentang anak band yang meninggal karena kecelakaan, dan akhirnya pacarnya bunuh diri deh. Inti dari film itu seperti itu. Tapi, kalau mau tau sinopsisnya, di Wikipedia pasti ada deh. :D

Kalau film barat yang terakhir Mila tonton dan Mila suka banget adalah Shutter Island. Tapi, Mila nontonnya nggak di bioskop. Mila nonton di laptop. Pemeran utamanya adalah Leonardo diCaprio, cowok ganteng sedunia yang meranin Jack di film yang sangat fenomenal, Titanic. Akhir-akhir ini, DiCaprio memang suka sekali bermain di film yang perlu berpikir untuk memahaminya, seperti Inception.


Leonardo DiCaprio Dahulu, diambil dari Vibizportal


Di Film Shutter Island, DiCaprio berperan menjadi orang yang kelainan jiwa, karena dia telah menyaksikan istrinya membunuh anak-anaknya, dan kemudian dia membunuh istrinya. Tapi, Dia-dalam pikirannya-membuat cerita khayalan tentang dirinya. Yaitu Dia adalah seorang prajurit militer. Sampai akhirnya dia pergi ke Shutter Island, tempat di mana dia akan "disembuhkan".


Leonardo DiCaprio sekarang, diambil dari Teen Movie Review

Akhir cerita ini sebenarnya tidak jelas, terserah penonton menganggap akhirnya seperti apa. Kalau menurut Mila, akhirnya DiCaprio sembuh dari penyakitnya, tapi, dia tetap ingin tinggal di Shutter Island bersama teman-temannya di sana. Bagaimana menurut teman-teman yang sudah nonton?

Ngomong-ngomong tentang Leonardo DiCaprio, film lain dari DiCaprio yang Mila suka adalah Blood Diamons. Sebenernya Mila jarang-jarang suka film perang-perang kayak gitu, tapi untuk yang satu ini Mila suka. :)

Well, sekian dari Mila. Makasih yang uda sempetin baca. :)

Love, Meela xx.

Selasa, 20 April 2010

Nonton Film Indonesia


Uda pada tau film Alangkah Lucunya (Negeri Ini) belum hayo? Wah, Mila sama Tanti, Icha, dan Ilfa tadi habis nonton film itu loh. Bagus filmnya, dua jempol buat Om Dedy Mizwar. Bener-bener film yang cocok ditonton saat mood lagi ngga karuan, karena bisa bikin kita ketawa ampe nangis sepanjang film diputar.

Ceritanya itu tentang seorang cowo, namanya Muluk, beliau ini sarjana Managemen, tapi masih pengangguran. Nah, beliau jatuh cinta pada seorang cewe (Mila lupa namanya, pokoknya jilbaban gtu), cewe itu cantik, anak pak Haji. Tapi, orang tua si cewenya ngga setuju kalo mereka menikah karena Muluk masih nganggur.

Suatu hari, Muluk mergokin ada anak kecil lagi nyopet, tapi nyopetnya bener-bener canggih deh, ngga kaya nyopet biasa, ada strateginya. Trus, kenalan deh, trus setelah melewati berbagai hal akhirnya Muluk memutuskan untuk mengembangkan SDM mereka.

Ceritanya masih panjang buanget. Nonton sendiri aja yaaaa. hehe..

Yang nyebelin, akhirnya nggantung, ngga dijelasin gimana akhirnya Muluk sama cewenya, terus gmana kelanjutan kehidupan anak-anak jalanan itu, dll. Mungkin emang tujuannya cuma untuk kritik sosial gitu kali ya. Tapi BAGUS kok. Layak untuk ditonton. :)

Sabtu, 13 Maret 2010

Maret, oh yeah!

Maret taun ini, hal yang paling berkesan ialah TUGAS MENUMPUK!! dari mulai tugas TIK yang disuruh nulis di blog, tapi ngga ada kabar dari Dosennya, sampai tugas Portofolio dari Bu Dosen yang sangat lucu, Mrs. Francien. Mila hampir stres rasanya menghadapi tugas-tugas yang seabrek-abrek itu. Belum lagi ditambah dengan PRAKTIKUM, oh yeah! Lengkap sudah penderitaan Mila.

Sebenernya Mila lagi ngga ada ide mau cerita tentang apa. Hehe. Beberapa minggu ini hidup Mila bener-bener datar seperti TV layar datar. Tenang banget hidup Mila sekarang, suer, berasa di atas angin. Masalah paling cuma masalah tugas yang seabrek, dan Alhamdulillah, Mila masih bisa mengatasinya, mental Mila ngga sampe jeblok.

Mau cerita praktikum ********** aja kali ya, soalnya Asistennya lumayan ganteng banget :)). Tumben-tumbenan gitu Mila dapet Asprak ganteng. Namanya, **********! Hehe. Namanya RHS lah, ntar orangnya baca blog ini mampus Mila :P. Well, tadi pas praktikum Mila kan telat, Mila ngga merhatiin Asistennya, nah, pas udah agak tenang, Mila mulai merhatiin, dalam hati Mila, 'kayak sapa ya ni Orang? Kok sepertinya familiar banget, ganteng ngga sih orang ini? Kok enak ya ngeliatin wajahnya'. Hwahaha. Semoga bukan LOVE AT THE FIRST SIGHT deh, Mila cintanya sama Ivan kok, mungkin cuma nge-fens aja. Temen-temen Mila juga banyak yang suka kok.

Kalo diperhatiin, Masnya itu mirip sama Kiki Farel! Yap, Kiki Farel, yang main di sinetron Cinderella bareng sama Cinta Laura. Tapi, setelah diperhatiin lebih lama lagi, Masnya mirip sama Kak Sandro, kakak kelas Mila pas di SMA dulu. Dulu Mila sempet nge-fens sama Kak Sandro, Mila suka ngge-eri Mas Sandro. Haha. Anak SMA banget deh tingkah laku Mila waktu itu, kalo sekarang mungkin lebih jaim kali ya.. :)

Balik ke praktikumnya aja deh, ngelantur banget kan? Hehe. Praktikumnya di adakan di luar kampus, tepatnya di kebun penelitiannya FP UB yang ada di **********. Jauh, ya, lumayan jauh. Malah praktikumnya tiap hari ********** jam 15.00-17.00! Waw! Mila mana berani nyetir sejauh itu, semalam (buat Mila itu udah Malem! :P) itu?? Tapi Koordinatornya adalah Bu **********, and it Means there's no excuse! Yah, Mila berharap smuanya lancar-lancar saja deh ya. Amiin..

Hya, udah selese cerita tentang praktikumnya, sekarang tentang apa ya? Bingung. Hehe.

Mila kepikiran, ada ngga ya orang yang kurang kerjaan banget baca tulisan Mila ini? Whwhwh. Mungkin ngga ada, bagus lah, jadi Mila ngga perlu was was kalo ada orang yang pernah ada dalam tulisan Mila (mungkin yang buruk) yang baca tulisan Mila ini. :))

Emm, rasanya cukup deh buat hari ini, Mila mau ngelanjutin nonton Final Destination 4 yang kemaren dikasih sama Ivan. Huah, Filnya sadis banget, dan terkesan dipas-pasin, banyak benda bergerak sendiri ngga jelas tanpa sebab, ngga kayak FD yang sebelum-sebelumnya. Malahan, masak ada adegan orang dewasa yang ngga disensor, trus (maaf) payudara cewenya ngga disensor sama sekali, keliatan banget, seperti di blue film. Ckckck. Seger banget pasti cowo-cowo yang nonton film itu. Hehe..

Sudah cukup, sekian aja yaa..
Babay..





Love,
Meela xx.

Senin, 16 November 2009

2012

Hemm, seharusnya tadi sore Mila dan Ivan lg duduk di kursi 21 yang sangat nyaman dan menikmati film yang satu ini, tapi ternyata, semuanya GAGAL TOTAL! Ternyata semua tiket sudah SOLD OUT baik di Dieng atopun di Matos! Jadinya Mila dan Ivan cuma main ke Timezone (bosen), trus jalan di Matos dan Dieng dengan lunglai, lalu ke kampus (cuman lewat) dan akhirnya Mila nemenin Ivan cetak foto. That's so far from what I say happy-time, but, being with him makes me happy enaugh. :)

Ivan tu kayaknya td tau kalo Mila kecewa, trus Ivan kayaknya berusaha banget bikin Mila happy, meskipun susah tersenyum di saat hati kita lg 'sakit' Mila td tetep menampilkan tampang bahagia di hadapan Ivan. Mila pengen Ivan seneng, dengan melihat Mila tersenyum. :)

Ivan berkali-kali minta maaf sama Mila karna ngga jadi nonton 2012, Mila jd kasian liat Ivan kayak gtu. Padahal kan itu bukan salah Ivan. Bukan salah sapa-sapa. Tapi abis gtu qta tetep smsan dan jayus-jayus-an seperti biasa. :)


------------------------------------------------------------------------------------------------------

Sebenernya apa sih kehebatan film 2012? Mila jadi penasaran, trus Mila coba googling, dan mendapatkan berita yang cukup mengagetkan:

Majelis Ulama Malang Imbau Warga Tak Tonton Film Kiamat '2012'

Senin, 16 November 2009 | 14:35 WIB

TEMPO Interaktif, Malang - Majelis Ulama Indonesia Kabupaten Malang mengimbau umat Islam untuk tidak menonton film tentang kiamat, “2012”, yang sedang diputar di bioskop-bioskop di Indonesia.

Ketua Majelis Ulama Indonesia Kabupaten Malang Mahmud Zubaidi mengecam penayangan film “2012” yang dianggapnya dapat menyesatkan pikiran orang-orang. Padahal, menurut ajaran Islam, hari kiamat tidak dapat dipastikan kapan terjadinya karena itu menjadi kuasa Allah SWT.

“Yang kami khawatirkan dampak dari film itu yang bisa membuat penonton, khususnya umat Islam, percaya kiamat pasti terjadi pada 2012. Itu menyesatkan. Kiamat pasti datang, tapi kapan terjadinya, menurut agama, tak ada yang dapat memastikannya,” kata Zubaidi, Senin (16/11). Ia sendiri mengaku belum menonton film tersebut.

Selain menyesatkan, dampak penayangan “2012” dapat meresahkan dan menimbulkan kepanikan masyarakat dunia, termasuk muslim di Indonesia. Penayangan “2012” dapat mempengaruhi orang untuk mengikuti aliran sesat yang dengan gampangnya mempercayai hari kiamat versi Hollywood itu.

Film “2012” menceritakan hari kiamat menurut penanggalan kuno bangsa Maya pada 21 Desember 2012 yang ditandai dengan mahabencana alam pada skala global. Film ini digarap Roland Emmerich, sutradara spesialis film fiksi-sains, seperti Stargate (1994), Independence Day (1996), Godzilla (1998), dan 10.000 BC (2008).

Di Kota Malang film 2012 diputar di Dieng Plaza dan Malang Town Square sejak Jumat pekan lalu. Penonton sangat antusias jika dilihat dari panjangnya antrean pembeli tiket.

Wahyu, seorang penonton asal Sawojajar, mengaku film 2012 tidak perlu dicemaskan akan menggoyahkan keimanan seseorang. “Itu hanya fiksi ilmiah yang dapat menambah pengetahuan saya,” kata Wahyu yang dijumpai di 21 Cineplex, Malang Town Square, kemarin malam.

------------------------------------------------------------------------------------------------------

Nah lo, gimana nih? Jadi nonton ngga ya? Jadi semakin penasaran.. hemm.. Ini ada cuplikan film 2012 yang Mila ambil dari Wikipedia:

Film ini terinspirasi oleh ide peristiwa hari kiamat global yang bersamaan dengan akhir putaran Kalender Hitungan Panjang Maya pada atau sekitar 12 Desember 2012 (titik balik matahari musim dingin belahan Bumi utara).

Jackson Curtis (John Cusack) adalah seorang ayah yang telah bercerai yang bekerja sampingan sebagai supir limousin dan penulis, sementara bekas istrinya (Amanda Peet) dan anak-anaknya tinggal bersama dengan pacar barunya, Gordon (Thomas McCarthy).

Di kota Tikal suku Maya di Guatemala, korban bunuh diri massal tampaknya mempercayai kalender Maya, yang meramalkan akhir dunia yang bersamaan dengan Kesejajaran Galaktik, yang terjadi pada 21 Desember 2012, tanggal terjadinya titik balik matahari musim dingin di belahan Bumi utara. IHC (Institute for Human Continuity), sebuah organisasi rahasia, menyadari situasi ini dan mulai membangun bahtera besar di bawah Pegunungan Himalaya yang dirancang untuk menghadapi banyak bencana alam untuk menyelamatkan manusia, spesies tertentu, dan harta manusia yang paling berharga ketika kiamat akhirnya terjadi. Ada perdebatan tentang bagaimana dan kapan pemerintah dunia akan memberitahu warga mereka, dan cara memilih orang-orang yang akan diselamatkan dari kiamat ini. Sementara itu, ketika sedang dalam perjalanan siang menuju Yellowstone dengan dua anaknya, Jackson bertemu Charlie Frost (Woody Harrelson), yang membawakan acara radionya sendiri tentang prediksi suku Maya terhadap 21 Desember 2012.

Retakan besar terbentuk di Patahan San Andreas, California, dan meskipun pemerintah meyakinkan segalanya aman, Jackson tidak yakin. Menyewa pesawat pribadi dan memperoleh barang-barang darurat, ia pergi ke rumah Kate di L.A. untuk menyelamatkan keluarganya dan Gordon dari gempa bumi karena perpindahan kulit Bumi. Jackson dengan cepat mengumpulkan keluarganya, dan setelah perjalanan yang panjang dan berbahaya dengan jalan-jalan yang runtuh menuju Bandar Udara Santa Monica, pacar baru Amanda, Gordon menggunakan kemampuan terbangnya untuk menyelamatkan keluarga ini. Deluruh kota Los Angeles yang runtuh mulai tenggelam ke Samudera Pasifik. Ketika pesawat semakin kekurangan bahan bakar, kelompok ini melihat kemungkinan mendarat di Wyoming. Jackson memanfaatkan kesempatan ini untuk bertemu Charlie. Menentang keinginan Kate, Jackson dan Lily pergi mencari Charlie, meskipun menemukan vannya kosong. Melalui radio, Charlie memberitahukan pendengarnya bahwa ia telah pergi ke pegunungan untuk menyaksikan kiamat. Jackson mengambil van tersebut untuk menyelamatkan Charlie, tapi Charlie menolak pergi. Ketika Jackson dan Lily melarikan diri dari gunung api yang meletus, Charlie menyebutkan sebuah peta di van yang akan memperlihatkan rute lari. Jackson dan Lily pergi kembali ke pesawat melewati hujan batu lava. Setelah tiba, Lily lari ke pesawat, tapi Jackson tetap di van untuk mencari peta tersebut, dan itu terlalu lama. Ketika tanah terbuka, van itu jatuh ke sebuah celah. Keluarga Jackson ketakutan, tapi harus pergi. Jackson memegang pinggiran, dan berlari ke pesawat ketika tanah di belakangnya terus runtuh. Ia cukup cepat memasuki pesawat.

Semakin jelas bahwa tidak hanya California yang mengalami bencana: Gunung Api Super Yellowstone meletus; gempa besar terjadi di Amerika Selatan; Washington, D.C. dibanjiri oleh tsunami dan USS John F. Kennedy menghancurkan Gedung Putih; dan St. Peter's Basilica di Roma runtuh, menewaskan ribuan orang. Tsunami lain menghantam New York City, menenggelamkan Patung Liberty. Pemerintah AS akhirnya mengumumkan akhir dunia. Jackson dan keluarganya harus mencari jalan ke Cina untuk menaiki kapal besar, karena pesawat kecil mereka tak mampu melakukan perjalanan ini. Ketika mereka mencari pesawat baru, semuanya dipenuhi penumpang. Tetapi, Gordon bergantung pada salah satu klien lamanya, Tamara (Beatrice Rosen). Ia bersama dengan milyuner Rusia, Yuri Karpov (Zlatko Buric). Keluarga ini mengetahui bahwa Yuri telah membawa pesawat untuk kabur ke Cina. Jackson meminta untuk memperbolehkan keluarganya, tapi Yuri menolak. Tetapi, pilotnya, Sasha (Johann Urb) memberitahu bahwa ia membutuhkan seorang kopilotdan Jackson mengatakan Gordon adalah pilot terlatih. Sehingga, kelompok ini akhirnya menaiki pesawat tersebut sementara bandara hancur oleh gempa bumi.

Ketika mereka ada di udara, Sasha sadar bahwa pesawat ini tidak memiliki bahan bakar cukup untuk terbang ke Cina. Ia memberitahu Gordon, dan mereka setuju untuk mendarat di air. Sasha kemudian mengetahui bahwa mereka tidak lagi di atas lautan: kulit Bumi telah berpindah ribuan mil dan mereka mengarah ke Pegunungan Himalaya. Mengetahui resiko mendaratkan pesawat di atas salju, Sasha mengatakan pada penumpang untuk pergi ke penyimpanan kargo dan banyak mobil disimpan di sana, sementara ia dan Gordon mempertahankan kontrol dan membuka pintu kargo dari kokpit. Rencana mereka ialah mengeluarkan mobil tersebut dari penyimpanan kargo. Gordon harus meninggalkan Sasha dan berlari ke mobil tepat waktunya. Sasha mendaratkan pesawat di sebuah jurang, yang kemudian runtuh. Anggota kelompok lainnya mendarat selamat. Tamara menangis dan meminta agar mereka kembali untuk mencari Sasha. Sebelum mereka bertindak, helikopter Cina yang mengangkut hewan besar terbang di atas mereka. Satu helikopter mendarat, meskipun kelompok ini tahu bahwa mereka harus bayar untuk menaikinya. Yuri membayar untuk dirinya dan putranya, tapi menolak membayar untuk orang lain. Sebelum masuk helikopter, ia berkata pada Tamara bahwa ia tahu hubungannya dengan Sasha.

Kelompok ini tak memiliki pilihan kecuali jalan melintasi pegunungan untuk mencari kelompok lain. Sebuah mobil lewat, Jackson melempar batu ke arahnya. Mobil berbalik dan penumpang membolehkan mereka naik. Di dalamnya terdapat seorang biarawan Buddha, Nima (Osric Chau), dan neneknya (Lisa Lu). Mereka pergi untuk bertemu dengan saudara Nima, Tenzin (Chin Han), yang punya rencana untuk menyelinap ke kapal besar itu.

Setelah tiba, Tenzin marah. Ia mengatakan pada Nima bahwa rencananya tidak dapat melibatkan banyak orang, dan orang lain tidak bisa diikutkan bergabung. Jackson dan Kate memaksa pada Tenzin bahwa mereka membawa anak-anak. Setelah perdebatan panjang, Tenzin membolehkan seluruh kelompok bergabung.

Jackson dan keluarganya berusaha menyelinap ke kapal itu dengan bantuan Tenzin. Carl Anheuser (Oliver Platt), Kepala Staf Presiden kemudian memerintahkan agar gerbang kapal ditutup, sementara suplai belum cukup. Ketika gerbang ditutup, kaki Tenzin hancur dan Gordon tewas. Dr.Adrian Helmsley,penasihat ilmiah Presiden (Chiwetel Ejiofor), kaget dan memutuskan gerbang dibuka untuk korban selamat yang tersisa. Roda sebuah gerbang di kapal tersebut macet dan tak mau menutup, sehingga gerbang setengah terbuka. Mesin kapal tak bisa dinyalakan kecuali gerbang ditutup. Ketika tsunami menghantam kapal, sebuah struktur penopang utama patah, dan kapal mengapung menuju Gunung Everest. Jackson dan Noah berusaha memperbaiki roda kapal dan gerbang pun tertutup. Mesin dinyalakan kembali untuk menghindari tabrakan dengan gunung. Kapal menabrak Gunung Everest, tapi mengalami sedikit kerusakan. Ketika banjir menyurut, kapten kapal memutuskan Tanjung Harapan Baik di Afrika Selatan sebagai tanah baru yang cocok bagi korban selamat.

------------------------------------------------------------------------------------------------------

Nonton apa ngga ya? hehe.. yah, kita liat nanti, kalo Ivan ngajak nonton oke-oke saja lah, kalo ngga ya, oke-oke saja juga.. :))

Referensi: http://www.tempointeraktif.com/hg/film/2009/11/16/brk,20091116-208590,id.html, http://id.wikipedia.org/wiki/2012_(film)
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...