Selasa, 21 Maret 2017

REVIEW: Gendongan Kaos MyBabyPouch

Kalo ngomongin soal gendongan bayi, kayaknya ngga pernah ada habisnya ya. Setiap tahun ada aja gendongan model baru yang ngetrend. 3 tahun yang lalu, baby wrap yang naik daun, sekarang gendongan kaos yang lagi banyak diminati.

Sebenernya saya termasuk agak ketinggalan kenal sama gendongan kaos ini. Karena saya udah duluan under estimate sama semua gendongan tipe sling. Badan saya yang kecil ini sepertinya bikin saya ngga berjodoh sama semua jenis gendongan, terutama yang tipe sling. Padahal kalo gendong newborn yang masih belum bisa menyangga kepalanya sendiri, gendongan tipe ini yang paling menjadi andalan.

Beberapa kali ngeliat artis-artis pakai gendongan tipe ini saya ngga seberapa ngeh, sampai suatu hari saya melihat teman saya memakai gendongan kaos dari MyBabyPouch. Teman saya bilang, gendongannya praktis dan nyaman buat gendong bayi. Lalu saya mulai cari tahu tentang gendongan kaos ini. Ternyata gendongan ini ada beberapa size, yang mana size nya mengikuti berat badan penggendong. Wah, pas banget untuk saya nih. Karena hampir semua gendongan yang umum dijual di pasaran kebesaran di badan saya, termasuk gendongan samping tipe ring yang bisa diatur ukurannya.

Daaaaan, akhirnya saya beli deh gendongan kaos MyBabyPouch dengan size XS (untuk berat badan 35-45 kg) dan motif amore warna hitam. FYI, gendongan kaos ini ada beberapa size dari XS sampai XXL. Untuk keterangan lebih lanjutnya bisa dilihat di Instagramnya MyBabyPouch ya.

 
MyBabyPouch Motif Amore

Waktu pertama kali ngeliat, perasaan saya kok ini kekecilan ya. Dan saya kira bahannya seperti baby wrap yang bisa melar banget, ternyata bahannya ngga semelar baby wrap. Ternyata, gendongan kaos ini bisa melar menyesuaikan berat badan bayi. Gendongan kaos ini bisa untuk newborn baby sampai toddler dengan berat 15 kg (kalau nggak salah).

Karena si Mas beratnya belum 15 kg, saya coba untuk menggendong si Mas. Bisa masuk sih, tapi anaknya keliatan nggak nyaman kayak kejepit gitu. Entah karena saya salah makenya atau gimana. Tapi, waktu saya coba untuk menggendong si Adek, wah, ternyata emang enak banget. Si Adek langsung tidur begitu digendong pake gendongan kaos ini, karena nyaman banget kali ya.

Selain size nya yang pasti cocok sama saya, bisa dipakai dari newborn sampai toddler, nyaman banget untuk baby dan Bundanya, gendongan ini juga dual fungsi. Selain jadi gendongan, dia juga bisa jadi selimut, yang pastinya hangat dan nyaman banget.

 
Dek Bita Bobo Nyenyak Pakai Selimut MyBabyPouch

Tapi, kalo menurut saya yang sebelumnya terbiasa pakai baby carrier Ergo Baby (yang KW sih tapi bukan yang ori 😅), cara makenya masih agak susah. Kalau baby carrier kan makenya gampang banget.

Over all, saya menyukai gendongan kaos ini. Nggak rugi lah ya ngeluarin uang sekitar 100 ribuan untuk sehelai kain gendongan yang ternyata emang nyaman banget kayak gini. Motifnya juga lucu-lucu banget loh. Ini aja saya pilih yang aman biar bisa dipake sama semua baju. Hehe.

Love,
Bunda Meela

P.S: Maaf ngga ada foto Bunda lagi pakai gendongan kaos nya, soalnya ngga ada foto yang layak. 😅

Kamis, 09 Maret 2017

Common New Mother's Problems

I wonder what a good mother would do when she has the same situation as I have these several days.


 

My Babies on My Bed


My beautiful little baby (the little one) was an ASI monster before. She drank sooooo much ASI. Until one night, I was so tired, and I gave her ASI only from my left breast. The next morning, my left breast became sooooo full--every breastfeeding mother will understand this. Because it was so full, my nipple, which is a little bit too small, became flat and she refused to drink from my left breast. I pushed her, because I knew, if I didn't, she won't drink ASI from my left breast forever. Aaaaand, the problem's coming, she was upset. And, I don't know why, since that day, everytime I tried to give her ASI, she became cranky. Well not always, but most of time. And the worst part is she has a very very very loud voice, even Suster who came to visit me on the first 10 days after I came home from the hospital said "dari lahir ini, suaranya paling kenceng sendiri, sampe kalau dia nangis, bayi2 di ruang bayi langsung diem semua".


My beautiful little baby became more cranky at night. And according to my intuition as a mother, She has colic. She drinks enough ASI (when she doesn't refuse my breast, she drinks like glek glek glek, and her diapers always get wet), I change her diaper almost every 4 hours or less (except when she sleeps at night, after her long cranky, I change her diaper after 6 hours), but she keeps cranky and my breast, my hug, even her Father's can't calm her. And it happens almost every night, until she gets tired crying and screaming.


My daughter also has allergies. People say when you are a breastfeeding mother you should eat more food because half of what you eat will be eaten by your baby. So, I ate everything I want. Until one day, there are thousands pimples on my daughter face and her body. Since that day, I don't eat almost everything. I don't drink milk, I don't eat chesse, chocolate, seafood, and everything with high protein.


Her stomach is way too sensitive. If I eat "something wrong", she pups like every hour everyday. She also can have hiccup and reflux easily. It's hard to burp her. This makes my daughter cranky too.


When my baby daughter was cranky, I always hold her in my arms. Along that cranky moment, her brother, my baby boy, was playing alone, sometimes with his Father. He enjoys playing alone, but he's still my baby boy who likes to play with his Mother and needs attention from me. He rarely gets cranky, but he usually become quiet. It really breaks my heart.


No, it doesn't make me stressed. But, if I am sleepy or tired, it makes me cranky. And almost every night when my baby daughter was cranky, at the same time, I was tired. It's because the previous night I didn't get enough sleep, I had to wake up in the morning and finished all the household chores, also took care of my babies, and I couldn't take a nap because when I was ready to take a nap, it was the time I must bathe my babies, and then another cranky night was coming. When I'm cranky, I grunt a lot, I want to cry with no reason, the cranky itself is the reason why.


The cranky moment was over, my baby daughter slept peacefully, and then I started feeling guilty, baby blues was coming. I thought I was failed being a good mother. I was afraid that my baby would hate me because I couldn't calm herself and myself when we're cranky.


But I realize, I am not alone. There are millions new mothers who feel the same. Breastfeeding problems, colic, and allergies are very common in new mother's life. This, too, shall past. Everything in life is temporary. The main key of these problems is yourself. Whether you want to be happy or not. It's all your choice.


New mother should find something that makes her happy. For me, my happiness is my husband being nice to me (I hope he reads this 😝). But I also found my happines in shopping (I hope my husband reads this too 😂), hanging out and having a little chit chat with my friends, getting a surprise (but not a bad one), and watching my little family's happy faces. What's yours? 😉


Love,

Bunda Meela ❤

Sabtu, 04 Maret 2017

I'm Coming Back

Hi, everyone! It's been so long since I wrote my last post here. Terakhir posting itu pas masih belum wisuda ya? Sedangkan saya wisuda Mei 2014 berarti sekitar hampir 3 tahunan saya menghilang. Jangan tanya saya kemana dan ngapain aja ya. Panjang ceritanya. Kalau emang penasaran banget bisa stalking FB atau Instagram saya. Ngomongin soal Instagram, baru aja Instagram saja dihack sama entah siapa. Ada yang bisa bantu balikin kah? 😂😂😂

Sekarang, saya adalah seorang Ibu. Ya, Ibu. Tapi anak-anak saya memanggil saya Bunda. Anak saya ada 2. Ya, di usia saya yang hampir 26 tahun ini, saya sudah punya anak 2. Jangan ditanya juga gimana ceritanya ya. Panjang banget juga.

 
Bunda Meela, Baby Bita, dan Gerrard

Gimana rasanya jadi Ibu? Luar biasa. Luar biasa bukan berarti senang terus. Pasti ada sedih-sedihnya. Bahkan saya sesekali menangis. Kadang dengan alasan tertentu, kadang tanpa alasan, ingin saja menangis. Tapi menjadi Ibu itu bukan soal tawa atau tangisan, jadi Ibu artinya kita memikul tanggung jawab atas anak-anak kita. Jadi Ibu artinya tiap hari harus berkutat dengan popok, sabun dan sampo bayi, minyak telon, dsb. Jadi Ibu artinya nggak ada lagi tidur malem full 8 jam. Jadi Ibu artinya nggak akan pernah bosan, karena setiap hari ada aja kejutan dari anak-anaknya. Tapi kadang bosen juga sih. Untungnya suami saya orangnya juga bosenan kalo ngga pergi-pergi. Jadilah kami keluarga yang hampir tiap hari pergi-pergi. Tapi sebulan ini ngga bisa kayak gitu lagi karena saya baru melahirkan, dan baby saya baru berumur 5 minggu. Kalo orang sini bilangnya belum selapan belum boleh keluar rumah. Meskipun sesekali kami nyolong-nyolong kesempatan sih.

 
My Family, Dek Bita masih di perut Bunda Meela

Terus kenapa akhirnya saya menulis lagi di blog ini? Karena saya merasa saya suka sekali menulis caption panjang di Path atau instagram atau FB saya. Terus saya mbatin "kayak nulis blog aja", kemudian saya iseng nyoba search satu kata kunci yang sering saya tulis di blog ini. Dan kaget banget, kok yang keluar malah situs-situs dewasa ga jelas yang kontennya isinya menjiplak 100% salah satu postingan saya. Kok bisa gitu ya? Terus saya buka blog, dan mulai membaca mundur. Lalu muncullah perasaan kangen, dan setelah saya baca tulisan saya lagi, well it's not perfect, but hey, they are not bad lah. Kenapa tidak saya coba lagi untuk menulis? Kalau kalian yang mampir dan membaca postingan ini setuju atau tidak setuju atau punya masukan bisa tulis komen di bawah ya. 🙃🙃🙃

Sekian dulu kayaknya postingan ini. Semoga saya istiqomah dan semoga tulisan-tulisan saya nantinya bisa menginspirasi serta bisa bermanfaat bagi banyak orang. Aamiin ya Allah.

Love,
Bunda Meela ❤

Kamis, 01 Mei 2014

Graduated

I am no longer going to Faculty of Agriculture, Brawijaya University, in other words, I have graduated. Sekarang, nama saya sudah sedikit lebih panjang. Ada gelar sarjana di belakangnya. Bagaimana dengan hidup saya? Satu kata: I'm happier. :)

Looking for graduation photos? Sayangnya, saya masih belum sempat ikut prosesi wisuda. Karena, saya harus menunggu Kakak saya--yang juga baru mendapat gelar sarjana--menyelesaikan hal-hal terkait wisuda yang cukup banyak. Kami ingin wisuda di hari yang sama. :D

Sedikit tidak menyangka, sekarang saya sudah jadi sarjana. Lebih tidak menyangka lagi, saya harus menjalani studi saya lebih dari waktu yang ditargetkan, yaitu 4 tahun. Tapi, Alhamdulillah, here I am, graduated and so much happier.

Terimakasih untuk Ayah, Ibu, Kakak, Adik, teman-teman, dosen dan karyawan, serta semua pihak yang secara langsung maupun secara tak langsung telah membantu saya dalam menyelesaikan studi saya. Terimakasih untuk pengunjung, pembaca, dan mereka yang meninggalkan jejak di blog ini. Terimakasih untuk pasangan saya, yang Alhamdulillah, selalu mencintai saya.

Sibuk apa? Sudah kerja? Saya sekarang sibuk berbahagia dan "bekerja" dengan bahagia. Saya juga sedang menunggu kebahagiaan besar lain. Alhamdulillah.

To Take a Picture or Not To Take a Picture

Do you think it is necessary to take a picture during your vacation?

Saat anda sedang pergi ke suatu tempat, khususnya untuk berlibur, entah itu ke taman hiburan, pegunungan, pantai, atau tempat berlibur lainnya, apakah anda lebih sibuk dengan kamera atau handphone atau tablet anda untuk mengambil gambar? Atau anda menyimpan rapat-rapat semua gadget anda dan menikmati apa yang telah disuguhkan serta menikmati kebersamaan dengan partner berlibur atau keluarga anda?

Banyak orang saat ini yang lebih memilih untuk sibuk dengan gadgetnya untuk mengambil gambar. Lebih tepatnya, mengambil gambar diri mereka di setiap spot yang mereka temui. Dan sebagian besar dari mereka, melakukan hal tersebut untuk mempublikasikan pada dunia (maya), bahwa mereka sedang atau pernah ke tempat tersebut. Mereka biasanya mengupload gambar-gambar mereka ke jejaring sosial, seperti Instagram dan Facebook, atau yang sedang ngehits saat ini: Path.

Di kota tempat saya tinggal, Malang, baru-baru ini sedang dihebohkan oleh satu tempat hiburan baru, yaitu Museum Angkut (@MuseumAngkut). Museum Angkut terletak di kota Batu. Lokasi Museum Angkut dekat dari Kusuma Agro Wisata, dan tidak begitu jauh dari Kompleks Jatim Park, yaitu Jawa Timur Park 1, Museum Satwa dan Secret Zoo, Eco Green Park, dan Batu Night Spectacular.

Museum Angkut merupakan perpaduan antara edukasi, hobi, koleksi, komunitas, serta legenda movie star dunia, begitu kata mereka. Museum Angkut buka setiap hari, mulai pukul 12.00 hingga pukul 20.00. Harga tiketnya adalah IDR 50K untuk weekdays dan IDR 75K untuk weekend, plus additional charge untuk kamera sebesar IDR 30K. Namun jika anda mengunjungi Museum Angkut di atas pukul 19.00, ada harga tiket khusus, yaitu hanya IDR 30K untuk weekdays, dan IDR 50K untuk weekend. Harga tiket khusus di atas pukul 19.00 tersebut sudah termasuk additional charge untuk kamera. Saya menyarankan, sebaiknya anda datang pada saat weekday pukul 19.00 saja. Satu jam saja insyaAllah sudah cukup untuk melintasi semua rute. Selain harga yang harus anda bayar jauh lebih murah, saat weekday dan malam hari, Museum Angkut tidak begitu ramai, sehingga anda bisa benar-benar menikmati apa yang ada di sana. Bagi anda yang mau taking pictures, juga lebih leluasa kalau malam hari, dan no additional charge for your cameras.

Berbicara tentang Museum Angkut, kemarin, saya akhirnya memutuskan untuk “mencicipinya” bersama pasangan saya. Sebelumnya, saat merencanakan untuk pergi ke sana, saya mengatakan pada pasangan saya “Museum Angkut itu tempatnya foto-foto lo, Sayang. Kalau sayang nggak mau motoin aku, berarti sayang harus mau aku foto di sana”, dan pasangan saya menjawab “Sip! Beres!”. Tapi, kenyataannya jauh sangat berbeda. Pasangan saya sibuk melihat-lihat semua koleksi mobil yang ada di Museum Angkut. Ya, pasangan saya memang sangat “jatuh cinta” pada mobil.

Pasangan saya bilang, “Buat apa sih sibuk ngambil foto sana-sini, yang ada malah nggak bisa menikmati apa yang ada”. Menurut saya, ada benarnya juga sih. Saya melihat, semua orang yang datang ke sana lebih sibuk dengan gadgetnya, dan saya rasa, hanya gambar-gambar itu lah yang mereka dapatkan, tidak lebih.

Tapi, menurut saya, tidak ada salahnya juga mengabadikan momen indah bersama pasangan atau keluarga. Dulu, saat saya masih kecil, Ayah saya yang seorang jurnalis saat di bangku kuliah, suka sekali mengabadikan gambar saat keluarga kami pergi berlibur. Di rumah, banyak sekali foto-foto liburan kami, yang membuat kami terbawa ke masa lalu saat melihatnya. Sayangnya, kebiasaan itu berubah seiring perubahan jaman. Era digital membuat Ayah saya tidak lagi mencetak foto liburan kami, kadang kala file foto kami juga hilang entah ke mana.

So, what do think? Is it necessary to take pictures during your holiday? Kalau untuk saya, mengabadikan momen indah bersama orang-orang tercinta itu cukup penting, tapi jangan sampai kita terlalu disibukkan dengan gadget kita sehingga kita malah tidak bisa menikmati momen indah tersebut.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...