Tampilkan postingan dengan label Tugas Mila. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tugas Mila. Tampilkan semua postingan

Rabu, 19 Oktober 2011

Sepenggal Cerita tentang Seorang Teman

Mila punya teman. Tapi bukan teman sepermainan. Dia ini jarang banget dateng ke kampus. Dia juga jarang mengerjakan tugas kelompok. Well, Mila tau, setiap orang punya prioritasnya masing-masing. Mungkin bagi dia kuliah bukan lah hal penting. Tapi, sayangnya nama Mila dan nama dia berdampingan di buku absen. Jadi, mau nggak mau hampir setiap ada tugas kelompok Mila harus sekelompok sama dia.

Semester-semester sebelumnya, dia nggak pernah dateng ke kampus. Jadi, semisal kita sekelompok, Mila nggak perlu mencantumkan namanya di cover tugas. Menurut Mila, itu lebih mending dari pada mereka-mereka yang nggak pernah ikut mengerjakan tugas tapi maksa-maksa namanya ditulis di cover. Tapi, semester ini ada yang berbeda, Mila nggak tau apakah itu sesuatu yang baik, atau malah buruk. Dia sekarang nggak bolosan lagi. Dan, sebelumnya, Mila nggak pernah berdiskusi dalam kelompok dengan dia. Pertama kali berdiskusi dengan dia, Mila langsung dongkol. Bener-bener dongkol. Gimana enggak. setiap Mila berpendapat, selalu disanggah. Mila sih emang dari sananya udah males sama dianya, jadi Mila nggak ambil pusing. Tapi lama kelamaan dia tambah menjadi-jadi. Masak iya setiap temen Mila mau berpendapat, dia selalu bilang "nggak gitu, bla bla bla bla". Bukannya Mila nggak menghargai pendapatnya, tapi omongannya itu OUT OF TOPIC banget teman-teman.

Terus, karena Mila lelah menghadapi dia, Mila curhat sama Ayah Mila. Kata Ayah, Mila nggak boleh kayak gitu. Mila harus bisa menghargai pendapat orang lain. Oke, kemudian Mila nyoba untuk mengetes, apakah isi kepalanya lebih baik dari omongannya atau tidak. Mila nyuruh dia membuat sebuah tulisan yang merupakan bagian dari makalah yang harus dikerjakan oleh kelompok Mila. And, suprisingly, tulisannya nggak buruk-buruk amat. Malah menurut Mila lebih bagus dari beberapa temen Mila yang sukanya maksa-maksa namanya di taruh di cover padahal kontribusinya di tugas sangat minim. Mereka cuma modal fotokopi, ngeprint, njilid, dan copy paste tinjauan pustaka dari internet.

Dari sini lah Mila bisa belajar sesuatu. Mila nggak boleh negative thinking dulu tentang kemampuan seseorang. Siapa Mila yang berhak menilai kualitas orang lain? Mila sendiri juga mungkin belum begitu baik. Bahkan jauh dari baik. Dan mulai sekarang, Mila mau mencoba untuk berubah. Tak apa lah Mila dimanfaatkan orang lain. Artinya Mila adalah orang yang berguna bagi sesama. Ya kan?

Mau tau tulisan temen Mila kayak apa? Oke, Mila upload deh. Buka di sini ya: KLIK!

Selasa, 22 Maret 2011

Last Wednesday

Okay, I'm about to write something in Bahasa Indonesia. Writing in English is cool, really cool, but, there's nothing "cooler" than using Bahasa Indonesia. I really love my country. Yes. I do!

Sejujurnya, ini hanya sebuat postingan geje yang sebenarnya nggak lucu, tapi kadang-kadang membuat Mila tersenyum-senyum sendiri saat membacanya lagi. Maaf bagi yang mengharapkan postingan yang intelek sebaiknya klik icon silang yang ada di pojokan aja ya. I guess you won't like to read this one.

Oke, back to the topic. Hari Rabu kemarin, Mila dan teman-teman Mila lagi pusing banget sama tugas Kuliah Survei Tanah dan Evaluasi Lahan yang diberikan oleh Bapak Dr. Ir. M. Luthfi Rayes, M. Sc. Beliau memberikan tugas kepada kami untuk mencari informasi peta sebanyak-banyaknya dengan syarat tiap mahasiswa mencari peta kabupaten yang berbeda-beda.

Entah bagaimana ceritanya, muncul isu bahwa kami bisa mendapatkan tugas yang diberikan oleh Bapak Rayes di Dinas Pertanahan yang letaknya di daerah Dieng, Malang. Akhirnya, setelah lama tunggu-menunggu-lalu-menunggu-dan-menunggu-lagi, terkumpullah 6 orang mahasiswa geje yang siap berangkat ke Dinas Pertanahan di siang yang sungguh terik tersebut.

Sampai di sana, kami baru sadar bahwa kami benar-benar pergi tanpa persiapan dan hanya bonek alias bondo nekat. Kenapa juga kami nggak sadar dari tadi-tadi pas sebelum berangkat ya?

Akhirnya dengan bondo nekat tersebut kami memberanikan diri masuk ke kantor Dinas Pertanahan. Sepertinya saat itu sedang jam istirahat. Kantornya lumayan sepi, dan tidak ada satpam yang menyapa "selamat datang, ada yang bisa saya bantu" seperti yang biasa ada di bank-bank. Wal hasil, kami pun benar-benar seperti sekelompok anak yang terpisah dengan ibunya dan kesasar di kantor Dinas Pertanian dan tak tau harus berbuat apa.

Tiba-tiba..

Mbak Indah: He, rek, yakin ta ini tempatnya? Ini bukannya buat orang-orang yang ngurusi sengketa tanah gitu ya?
Inputri: Iya deh rek, beneran ta di sini?
Mila: Udah lah, uda terlanjur basah juga, kita coba aja dulu. Kalo salah juga gapapa kan, kita bisa tanya sama orang di sini kemana seharusnya kita pergi. (Aslinya Mila nggak ngomong sebagus ini, ini sedikit direkayasa).
Ilfa: Iya rek, ayo wes kita coba dulu.
Dhila: Iya.
Evana: Hahaha. Ayo rek.
Mbak indah: Rek, liaten a ini, sidang bla bla bla, sidang bla bla bla. Ini beneran buat sidang rek. Hahaha.
Semua anak: Hahahaha.


Singkat cerita, akhirnya Mila memberanikan diri bicara pada Bapak yang menjaga di loket INFORMASI. Malu bertanya sesat di jalan. Dari pada sesat, mending tanya saja, toh besok-besok nggak bakal ketemu sama orang-orang di sini, pikir Mila saat itu.

Setelah itu, si Bapak penjaga loket informasi menyuruh kami masuk ke sebuah pintu dan mencari Laboratorium (or what? I'm kinda forget) Pemetaan. Dan, kami dengan pedenya masuk tanpa membaca tulisan di pintu yang mengatakan bahwa "DILARANG MASUK SELAIN PETUGAS". Sungguh anak-anak yang pintar.

Sampai di ruangan tujuan yang tadi disebutkan oleh Bapak penjaga loket informasi, kita sungkan untuk masuk. Akhirnya kita mengetuk pintu tersebut. Oh, well, it's so silly. We're knocking a public door that supposed to be not knocked! Then, some people inside the room asked us to push the door and came in to the room. Sampai di ruangan kami juga bingung harus berkata apa, karena itu adalah kantor yang memang kantor dan tidak untuk tempat bermain para "precil-precil" seperti kami.

Singkat cerita (lagi), people inside that room asked us to go to another room at the upstairs. Dan, bodohnya lagi, Mila malah bertanya "tangganya di mana ya pak?", lalu Ilfa nyeletuk dengan gaya khasnya "O ya, sebentar ya dek, saya ambilkan tangganya". Percakapan yang sangat aneh. Lalu kami meninggalkan ruangan tersebut setelah sebelumnya mengucapkan terima kasih ke pada bapak dan ibu di sana.

Sama seperti di ruangan sebelumnya. Kami tidak mendapatkan apa yang kami cari di ruangan kedua. Dan akhirnya we decided to do another mission, yaitu pergi ke Jurusan Tanah dan meminta surat pengantar. Karena Dinas-dinas macam itu memang mengharuskan surat pengantar untuk bisa melakukan sesuatu atau meminta sesuatu.

Tapi, saat di parkiran, seorang teman Mila bertanya kepada tukang parkir di sana, dan tukang parkir tersebut menyarankan kami untuk pergi ke Dinas Pertanahan Kotamadya Malang yang berada di VELODROM. Saya benar-benar mengutuk Mas tukang parkir tersebut yang memberikan ide gila yang ternyata tidak menghasilkan apa-apa juga.

Kami menuruti Mas penjaga parkir tersebut dan pergi ke Velodrom yang jauhnya amat sangat sekali dari tempat kami berpijak. Dengan cuaca yang sangat panas, perut kosong, dan bensin yang tinggal "seuprit", akhirnya kami sampai di sana setelah nyasar-nyasar beberapa kali. First impression tentang tempat tersebut adalah "WOW", bangunannya bagus banget. Seperti bandara, kata Ilfa. Kata Mbak Indah, tinggal dikasih halo-halo "Selamat Datang, Welcome", uda kayak di bandara aja. Tapi, buat apa gedung bagus kalo kami tidak mendapatkan apa yang kami butuhkan.

Akhirnya kami kembali ke kampus dengan tangan hampa. Setelah sholat dan memohon petunjuk kepada Allah SWT, akhirnya kami memutuskan untuk melakukan second mission yang sebelumnya sudah kami bicarakan. Kami pergi ke Jurusan Tanah, dan ABRAKADABRA, kami hampir pingsan mendengar perkataan Bapak Administrasi Jurusan Tanah, "Ngapain kalian kesana, wong mereka dapetnya dari sini". Astaganaga, kenapa nggak dari tadi-tadi aja sih kami sholatnya, tau gini kan nggak usah buang-buang bensin ke VELODROM.



But, at least, we had so much fun that day. :)

Satu hal penting yang dapat dipetik dari kejadian hari itu adalah: saat kalian dihadapkan pada kegejean, sholat lah!

Love, Meela xx.

Rabu, 23 Februari 2011

Performance Irigasi di Indonesia di Petak Tersier

Ok, sepertinya ada sedikit missunderstanding antara Mila dengan soal. Mila salah membaca soal kedua dari homework yang diberikan oleh Dosen Mila. Ternyata, soal kedua bunyinya adalah seperti ini “Bagaimana performance irigasi di Indonesia terutama di petak tersier?”. Soal ini benar-benar berbeda dari soal yang Mila kira sebelumnya. Oke oke, calm down, ga perlu panik, Mila sudah Googling lagi, dan kebetulan sekali mendapatkan jurnal yang berjudul “Penilaian Kinerja Jaringan Irigasi Tersier Menggunakan Teori Himpunan Kekaburan”. Nah, ternyata di pendahuluannya ada sedikit gambaran tentang penampilan irigasi tersier yang ada di Indonesia.

Dalam perjalanan sejarah irigasi di Indonesia, pengelolaan irigasi di tingkat jaringan utama pernah menjadi kewenangan pemerintah maupun petani. Namun, untuk pengelolaan petak tersier selalu menjadi kewenangan petani karena jaringan tersier merupakan jaringan irigasi yang langsung bersentuhan dengan petani. Pengelolaan petak tersier yang dilakukan oleh petani dilakukan melalui Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) sebagai organisasi yang menghimpun petani dengan satu kepentingan terhadap air irigasi dalam satu petak tersier. Pengelolaan jaringan irigasi tingkat tersier mempunyai kontribusi signifikan dalam memperoleh kinerja irigasi yang tinggi. Oleh karena itu pemerintah memandang perlu untuk turut membantu pengembangan pengembangan petak tersier dan meningkatkan kinerja petak tersier. Pengembangan petak tersier di Daerah Irigasi (DI) baru atau pengembangan dilakukan oleh Departemen Pekerjaan Umum sedangkan Departemen Pertanian membantu peningkatan jaringan tersier melalui Program Jaringan Irigasi Tingkat Usaha Tani (JITUT).

Sepertinya kurang-lebih jawabannya seperti itu. Maaf-maaf ya kalau salah, karena soalnya rancu. Kalau digabungkan dengan postingan yang kemarin juga oke lah. :)

Love, Meela xx.

Bagaimana Irigasi di Indonesia?

Yap, ini adalah lanjutan dari postingan Mila kemarin yang berjudul Apa Hubungan Antara Irigasi dengan Siklus Hidrologi? Postingan ini juga dalam rangka mengerjakan homework yang diberikan oleh dosen Mata Kuliah Irigasi dan Drainase yang sudah Mila ceritakan sebelumnya.

Sebenarnya Mila kemarin sudah mencari-cari informasi di Google tentang Irigasi di Indonesia. Tapi, kemarin sepertinya Mila sedang tidak beruntung, sehingga Mila tidak bisa menemukan jawaban dari pertanyaan tersebut. Fortunatelly, tadi sore Mila mencoba kembali mencari informasi di Google dan mendapatkan tiga artikel terkait hal ini dari tiga tahun yang berbeda-beda, yaitu tentang jaringan irigasi di Indonesia yang rusak pada tahun 2007, dukungan Australia terhadap sektor irigasi di Indonesia pada tahun 2010, dan yang paling fresh from the oven adalah berita tentang pemerintah mengalokasikan dana yang cukup besar untuk perawatan irigasi.

Dari ketiga artikel tersebut akhirnya Mila mendapatkan titik terang tentang kondisi irigasi di Indonesia. :)

Sebenarnya, sejak tahun 1995, sistem irigasi di Indonesia, termasuk sistem irigasi rawa dan waduk, sudah banyak yang rusak. Pemerintah sudah melakukan berbagai upaya perbaikan, namun hingga tahun 2007, sekitar 1.5 juta hektar dari 6.7 hektar jaringan irigasi di Indonesia masih belum dapat berfungsi dengan baik.

Dalam pertemuan International Commission on Irrigation and Drainage (ICID) pada tanggal 10 sampai 16 Oktober 2010 di Yogyakarta, Australia dan Indonesia merencanakan untuk melakukan kerja sama dalam sektor irigasi. Sebagai salah satu negara dengan sumber air yang dibatasi, Australia telah melakukan usaha pengaturan, efisiensi, dan penggunaan ulang air sehingga dianggap tepat untuk membantu mengembangkan sistem irigasi di Indonesia. Australia telah berkomitmen untuk mendukung Indonesia membuat 10 juta saluran air tambahan, serta melakukan pelatihan dan sertifikasi di Indonesia.

Tet tot, Mila merasa ada something wrong di sini. Pada tahun 2007 kan banyak sistem Irigasi di Indonesia yang rusak, sudah ada upaya perbaikan, tapi masih banyak sistem irigasi yang belum berfungsi dengan baik. Lantas, kenapa Indonesia malah menambah sistem irigasinya? Kenapa tidak diperbaiki sampai tuntas saja? Rasanya upaya yang dilakukan tidak menyelesaikan sampai akar permasalahannya, tapi hanya untuk tujuan jangka pendek.

Pada tahun 2011 ini, pemerintah mengalokasikan dana sebesar Rp. 1.1 triliun untuk perawatan irigasi. Wow! Angka yang cukup besar, tapi tidak lebih besar dari alokasi pada tahun 2010, yaitu sebesar Rp. 1.8 triliun. Namun, dari total alokasi tahun 2010 itu, hingga akhir tahun lalu hanya terserap Rp 720 miliar. Capaian pembangunan jaringan irigasi tahun lalu hanya seluas 34.500 hektare dari target seluas sekitar 96.000 hektare, sedangkan rehabilitasi irigasi mencapai luas 147.000 hektare dari target seluas 293.000 hektare. Alasan tidak tercapainya target tersebut adalah kondisi lahan yang kering dan curah hujan yang rendah, akibatnya pembangunan irigasi mengalami kendala. Lalu, kemanakah uang yang tidak terpakai tersebut?

Begitulah cemans-cemans, kondisi irigasi di negara kita tercinta ini. Tidak seindah yang ada di dongeng. Semoga tahun ini sistem irigasi di negara kita bisa lebih baik. Semoga dana dari pemerintah benar-benar digunakan dengan baik. Amin.

Love, Meela xx.

Selasa, 22 Februari 2011

Apa Hubungan antara Irigasi dan Siklus Hidrologi?

Hari ini adalah hari pertama kuliah di semester empat. Ternyata, dosennya pada rajin-rajin banget. Dari dua mata kuliah, kedua dosennya datang on-time, tanpa basa basi langsung masuk ke materi, dan di akhir kuliah sama-sama memberi PR. Alhamdulillah wa Innalillah deh. Nah, mata kuliah pertama adalah Irigasi dan Drainase. Untuk mata kuliah ini Mila nggak ngambil kelas "B" seperti semester-semester sebelumnya, Mila mencoba atmosfir belajar yang baru, yaitu di kelas "A". Well, sebenarnya nggak begitu berbeda kuliah di kelas "B" dan di kelas "A". Karena untuk mata kuliah ini, dosen lebih banyak presentasi, dan belum ada tugas kelompok, atau hal-hal lain yang mewajibkan mahasiswa untuk berinteraksi satu sama lain.

Lantas, apa hubungannya kuliah pertama dengan judul dari postingan Mila ini?

Sebenarnya, judul di atas adalah salah satu homework yang dikasih oleh dosen dan harus dikumpulkan minggu depan. Waktu dosen memberi tugas itu, sebenernya Mila sedikit ada gambaran, tapi nggak tau kenapa, waktu Mila mau mulai mengerjakan tugasnya Mila jadi ngeblank. Mungkin ini ulah setan yang mencoba mengajak Mila untuk malas. Malas berpikir. Akhirnya Mila memutuskan untuk menulis di blog saja.

Oke, kalau begitu, ayo kita bantai homeworks dari para dosen! :)

Irigasi, apa sih itu?

Pada semester-semester sebelumnya, Mila sudah mendapatkan materi tentang irigasi saat mata kuliah Dasar Budidaya Tanaman, dan kemudian dibahas kembali di mata kuliah Teknologi Produksi Tanaman. Bahkan, sebelumnya Mila sudah pernah presentasi tentang Irigasi.

Buat mahasiswa pertanian mungkin kata irigasi udah nggak asing lagi di kuping. Tapi mungkin beberapa orang ada yang belum mengetahui definisi irigasi itu apa. Menurut Bapak dosen Irigasi dan Drainase Mila (Mila lupa namanya),
Irigasi adalah usaha menambah sejumlah air ke tanah untuk memenuhi kebutuhan air tanaman untuk proses transpirasi dan fotosintesis.

Sedangkat menurut Wikipedia.org,
Irigasi merupakan upaya yang dilakukan manusia untuk mengairi lahan pertanian.

Kurang lebih pengertian irigasi seperti itu lah. Kalau mau lebih jelasnya silahkan lihat di kamus besar Bahasa Indonesia atau di kamus pertanian.

Kapan irigasi diperlukan? Irigasi diperlukan saat tanah (sebagai media tanam) dan lingkungan tidak dapat memenuhi kebutuhan air tanaman untuk proses transpirasi dan fotosintesis.

Sumber irigasi dapat berasal dari sungai/ waduk/ danau atau dari groundwater dengan cara dipompa.

Dalam pelaksanaannya, irigasi mencakup empat aspek penting yang saling mempengaruhi, yaitu iklim, tanaman, tanah, dan manusia. Iklim, seperti curah hujan, kelembapan, suhu, penguapan, dan sebagainya akan mempengaruhi besar-kecilnya proses evapotranspirasi. Kebutuhan akan air tiap fase pertumbuhan tanaman tidak sama, hal ini dikarenakan oleh perbedaan jumlah dan ukuran daun. Selain itu, tipe tanaman juga menentukan kebutuhan air tanaman, tanaman dengan tipe daun berbeda akan membutuhkan air dengan jumlah yang berbeda pula serta cara distribusi yang tentu saja berbeda. Karakteristik tanah yang berhubungan dengan air akan mempengaruhi jumlah air yang diberikan serta frekuensi pemberiannya. Sedangkan manusia memegang peranan yang sangat besar, karena manusia memiliki akal pikiran serta nafsu. Dalam hal ini yang berperan adalah kelompok masyarakat petani pemakai air.

Apa tujuan dilakukan irigasi? Tujuan-tujuan irigasi antara lain ialah:
1. Mencukupi kebutuhan air tanaman, seperti definisi irigasi yang telah disevutkan di atas, irigasi bertujuan untuk mencukupi kebutuhan air tanaman.
2. Memudahkan pengolahan tanah, air irigasi akan melunakkan tanah sehingga lebih mudah untuk diolah.
3. Menurunkan suhu tanah, suhu air kan rendah, coba saja kalau saat panas kita menyentuh air, pasti terasa dingin dan sejuk sekali.
4. Mencuci akumulasi garam di daerah perakaran, khususnya di daerah pantai, daerah pantai cenderung memiliki suhu yang tinggi, akibatnya penguapan di permukaan tanah menjadi tinggi, dan tanah bagian atas menjadi kering. Akibatnya, terjadi proses kapilaritas, yaitu naiknya air di bagian bawah tanah menuju bagian atas. Air sari bagian bawah tanah membawa garam, sehingga daerah dekat perakaran kandungan garamnya menjadi tinggi. Nah, kalau sudah demikian, akan terjadi plasmolisis, yaitu keluarnya air dalam akar ke tanah, lama-lama sel-sel akar akan kekurangan air, mengeriput, dan mati. Oleh karena itu perlu ditambahkan air irigasi untuk mengurangi kepekatan air dalam tanah dan mendorong garam di daerah perakaran ke bagian bawah tanah.
5. Mencuci polutan, sama seperti halnya untuk mencuci garam, air juga bisa mendorong polutan di daerah perakaran ke bagian bawah tanah atau bagian yang jauh dari perakaran, sehingga tidak mengganggu perkembangan dan pertumbuhan tanaman.


Lalu, apa itu Siklus Hidrologi?

Menurut Wikipedia.org,
Siklus air atau siklus hidrologi adalah sirkulasi air yang tidak pernah berhenti dari atmosfer ke bumi dan kembali ke atmosfir melalui kondensasi, presipitasi, evaporasi dan transpirasi.


Awalnya, air laut mengalami penguapan atau evaporasi, kemudian berkondensasi membentuk gumpalan-gumpalan awan. Setelah itu awan tertiup angin menuju darat, dan pada kondisi tertentu akan jatuh sebagai presipitasi baik dalam bentuk hujan, gerimis, salju, dan lain-lain. Nah, dalam perjalanannya mencapai tanah, presipitasi bisa mengalami evaporasi kembali, namun juga bisa juga diintersepsi (ini artinya apa sih?) oleh tanaman sebelum mencapai tanah. Setelah mencapai tanah, siklus hidrologi terus bergerak secara kontinu dalam tiga cara yang berbeda:
1. Evaporasi/ transpirasi, air yang ada di laut, di daratan, di sungai, di tanaman, dsb. kemudian akan menguap ke angkasa (atmosfer) dan kemudian akan menjadi awan. Pada keadaan jenuh uap air (awan) itu akan menjadi bintik-bintik air yang selanjutnya akan turun (precipitation) dalam bentuk hujan, salju, es.
2. Infiltrasi/ Perkolasi ke dalam tanah, air bergerak ke dalam tanah melalui celah-celah dan pori-pori tanah dan batuan menuju muka air tanah. Air dapat bergerak akibat aksi kapiler atau air dapat bergerak secara vertikal atau horizontal dibawah permukaan tanah hingga air tersebut memasuki kembali sistem air permukaan.
3. Air Permukaan, air bergerak diatas permukaan tanah dekat dengan aliran utama dan danau; makin landai lahan dan makin sedikit pori-pori tanah, maka aliran permukaan semakin besar. Aliran permukaan tanah dapat dilihat biasanya pada daerah urban. Sungai-sungai bergabung satu sama lain dan membentuk sungai utama yang membawa seluruh air permukaan disekitar daerah aliran sungai menuju laut.

Air permukaan, baik yang mengalir maupun yang tergenang (danau, waduk, rawa), dan sebagian air bawah permukaan akan terkumpul dan mengalir membentuk sungai dan berakhir ke laut. Proses perjalanan air di daratan itu terjadi dalam komponen-komponen siklus hidrologi yang membentuk sistem Daerah Aliran Sungai (DAS).

Jumlah air di bumi secara keseluruhan relatif tetap, yang berubah adalah wujud dan tempatnya.

Nah, sekarang Mila mendapatkan jawabannya! :)

Seperti yang telah Mila tulis sebelumnya, sumber air irigasi dapat berasal dari air permukaan (danau/ sungai/ waduk) atau dari groundwater. Nah, dalam siklus hidrologi, setelah air mencapai permukaan tanah, air kemudian bergerak secara kontinu dengan tiga cara berbeda, yaitu penguapan, infiltrasi, dan aliiran permukaan. Apabila air langsung mengalami penguapan, maka air yang dapat digunakan untuk irigasi menjadi sedikit, karena air di waduk, sungai, danau, rawa, serta groundwater akan berkurang. Mengapa bisa berkurang, padahal jumlah air di bumi secara keseluruhan kan tetap? Ya, memang secara keseluruhan tetap, tapi wujud dan tempatnya kan berubah. Bila air banyak yang mengalami penguapan maka air permukaan dan air tanah akan berkurang jumlahnya.

Sedangkan bila air mengalami infiltrasi, maupun aliran permukaan terlebih dahulu, ketersediaan air untuk irigasi akan banyak. Seperti yang telah dijelaskan oleh Bapak Dosen sebelumnya, bahwa air lebih dapat dimanfaatkan manusia apabila perputaran daur lambat, yaitu tidak langsung mengalami evaporasi/ transpirasi, tapi mengalami infiltrasi/ perkolasi atau aliran permukaan dahulu.

Demikianlah yang Mila pahami tentang hubungan antara irigasi dengan siklus hidrologi. Untuk para master, apabila pendapat Mila ada yang salah, tolong pembetulannya ya. Terimakasih. :)

Love, Meela xx.

Minggu, 28 November 2010

Tugas Bioteknologi Pertanian (LUQMAN QURATA AINI, PhD)

TUGAS BIOTEKNOLOGI PERTANIAN (TUGAS INDIVIDU):
1. Artikel yang telah dibagikan tolong dibaca
2. Buat ringkasan sesuai yang anda pahami dari artikel tersebut
3. Minggu depan didiskusikan

Artikel dapat didapat di:

Minggu, 30 Mei 2010

Mengenal Hama Penting Tumbuhan

Pada suatu ekosistem pertanian ada serangga yang setiap tahun merusak tanaman sehingga menimbulkan kerugian yang cukup besar, ada serangga yang populasinya tidak begitu tinggi tetapi merugikan tanaman pula bahkan ada serangga yang populasinya sangat rendah dan kerusakan yang diderita tanaman kurang diperhitungkan. Untuk mengendalikan hama pada tanaman tertentu dengan tepat, sebelumnya kita perlu mengetahui status hama tersebut, apakah ia termasuk ke dalam hama primer atau major pest¸ hama sekunder atau secondary pest, atau migratory pest atau hama migrasi.

Beberapa Pengertian Hama penting yang saya dapat dari berbagai sumber antara lain ialah:

1. Hama penting ialah hama yang populasinya selalu tinggi dan dapat menyebabkan kerugian pada tanaman yang dibudidayakan.

2. Key pest atau hama utama ialah hama yang selalu muncul pada setiap musim tanam. (Rahardjo, 2010)

3. Hama penting ialah spesies hama yang selalu muncul pada tanaman yang dibudidayakan dan populasinya menimbulkan kerusakan dan kerugian secara ekonomi.

4. Hama utama atau hama primer ialah jenis hama yang pada saat tanam jenis tanaman tertentu selalu ada dan menimbulkan kerugian.

5. Hama penting ialah segala spesies hama yang selalu ada atau muncul pada suatu tanaman yang dibudidayakan tersebut.

Pada tanaman jagung, salah satu hama pentingnya ialah Penggerek Batang Jagung (Helicoverpa armigera). Ngengat betina hama ini meletakan telur pada rambut tongkol atau daun muda secara sendiri-sendiri, seekor ngengat dapat meletakan telur sampai 1000 butir dan stadium telur antara 2-5 hari. Setelah menetas larva bergerak kebawah menuju tongkol clan menggerek bagian ujung atas tongkol. Selanjutnya larva bergerak makin kebawah dan memakan biji-biji muda hingga menjelang pupa. Larva berambut pendek dan mempunyai sifat kanibal, sehingga umumnya hanya dijumpai satu ekor larva da1am satu tongkol. Stadium larva berlangsung selama 17-24 hari dan terdiri dari 6 instar. Menjelang pupa larva keluar dari ujung tonggol atau lubang yang telah dipersiapkan menuju tanah dan membentuk pupa si dalam tanah. Stadium pupa berkisar antara 12-14 hari. Imago tidak tertarik terhadap cahaya lampu minyak biasa tetapi tertarik terhadap cahaya lampu.

Imago betina akan meletakkan telur pada silk jagung dan sesaat setelah menetas larva akan menginvasi masuk kedalam tongkol dan akan memakan biji yang sedang mengalami perkembangan. Infestasi serangga ini akan menurunkan kualitas dan kuantitas tongkol jagung.

Pengendalian yang dapat dilakukan ialah dengan:

a. Pergiliran tanaman dengan tanaman bukan inang.

b. Saat pembentukan bunga/buah serempak.

c. Pengumpulan dan pemusnahan larva yang mudah diambil.

d. Pengendalian dengan penyemprotan insektisida efektif apabila ditemukan 3 tongkol rusak per 50 tanaman atau aplikasi insektisida butiran didaerah kronis/endemis pada saat menjelang berbunga.

Sedangkan pada tanaman kopi, kita mengenal adanya hama Hypothenemus hampei atau penggerek buah kopi. Imago bubuk buah kopi masuk ke buah kopi melalui diskus, kemudian ke endosperma. Serangan pada buah - buah muda hanya untuk keperluan makan bagi imago yang dapat menyebabkan buah gugur dan busuk. Serangan pada saat buah mulai mengeras selain menggerek buah dan memakan biji kopi, bubuk buah juga berkembang biak didalam biji. Sehingga biji menjadi berlubang-lubang, cacat dan busuk.

Pada tomat, kita mengenal kutu kebul, (Bemisia tabaci Genn.), berikut ialah cirri-ciri dan bioekologi kutu kebul:

1. Ciri-ciri:

a. Telur : Telur serangga memiliki ukuran panjang 0,2 mm dan 0,1 mm bulatnya.

b. Nimfa : Nimfa terdiri atas tiga instar. Instar ke - 1 berbentuk bulat telur dan pipih, berwarna kuning kehijauan, dan bertungkai yang berfungsi untuk merangkak. Nimfa instar ke - 2 dan ke - 3 tidak bertungkai, dan selama masa pertumbuhannya hanya melekat pada daun.

c. Imago : Imago berukuran kecil antara (1 - 1,5 mm), berwarna putih, dan sayapnya jernih ditutupi lapisan lilin yang bertepung.

2. Bioekologi:

Telur-telurnya diletakkan di permukaan daun bagian bawah. Masing-masing serangga betina secara acak meletakkan telur sebanyak 50 hingga 400 butir telur (dengan rata-rata 160 butir). Telur yang baru diletakkan berwarna kuning-keputihan selanjutnya berubah warna menjadi agak kecoklatan dan akan menetas setelah tujuh hingga 10 hari. Setelah telur menetas serangga memasuki empat fase nimfa sebelum akhirnya menjadi imago (dewasa). Stadium nimfa rata-rata 9,2 hari. Serangga dewasa biasanya berkelompok pada bagian permukaan bawah daun, dan bila tanaman tersentuh biasanya akan berterbangan seperti kabut atau kebul putih. Lama siklus hidup (telur - nimfa - imago)rata-rata 24,7 hari Dewasa.

Berikut ini beberapa gambar dari beberapa jenis hama dana gejala yang ditimbulkannya:

1. Scirpophaga innotata




2. Riptortus linearis


3. Thrips sp.



4. Plutella xylostella


5. Chilo auricilius


(Berbagai sumber)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...